Bersiap, Kawasan Sentra Industri Garam Nasional Bakal Dibangun
- 29 Jul 2025 09:12 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Demi mewujudkan kemandirian garam nasional menuju swasembada garam nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat sinergi dengan instansi di daerah dalam pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Kolaborasi antara pusat-daerah juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama dalam meningkatkan produksi dan kualitas garam dalam negeri.
Dilansir dari laman kkp.go.id, pada Selasa (29/7/2025) pagi, instansi yang turut berkolaborasi antara lain Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) NTT, Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Dinas (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) PUPR, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Kejaksaan Tinggi, hingga kepolisian. Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dalam siaran pers resmi KKP.
"Keterlibatan berbagai pihak sangat dibutuhkan, kami sudah mintakan pendampingan kepada Kejaksaan untuk pendampingan program-program prioritas KKP, dukungan dinas kelautan dan perikanan provinsi juga sudah sangat baik, demikian juga dengan pemerintahan Kabupaten Rote Ndao, kita harus bersinergi semua," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara dalam siaran resmi KKP di Jakarta, (28/7).
Koswara menambahkan pihaknya juga sudah menandatangani beberapa perjanjian kerjasama diantaranya dengan BPN NTT dan PLN untuk kelancaran program ini. Kolaborasi pelaksanaan garam ini sangat penting mengingat garam bukan hanya komoditas strategis, tetapi bagian penting dari ketahanan pangan dan industri nasional.
"KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) mendorong industrialisasi sektor pergaraman berbasis kawasan untuk efisiensi rantai pasok, peningkatan kesejahteraan petambak, serta nilai tambah produk garam," ucapnya.
Kawasan K-SIGN akan dikembangkan dalam tiga tahap hingga tahun 2027 dengan total luas lahan sekitar 13 ribu hektare yang terbagi dalam 10 zona produksi. Setiap zona akan dilengkapi fasilitas produksi, pabrik pengolahan, dan infrastruktur pendukung seperti dermaga distribusi dan jalan produksi. Pengembangan tahap pertama akan dimulai di Zona 1 seluas 1.192 hektar.
Dalam jangka panjang, keberadaan K-SIGN di Rote Ndao juga diharapkan menjadi katalis pertumbuhan industri turunan, seperti garam konsumsi, aneka pangan, dan industri kimia. Peningkatan pendapatan daerah dan devisa negara juga menjadi dampak ekonomi signifikan dari proyek ini.
Direktur Sumber Daya Kelautan, Frista Yorhanita, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan kawasan ini turut didukung oleh mekanisasi panen, penyediaan washing plant, laboratorium kualitas, hingga optimalisasi kualitas air laut. Pihaknya menargetkan kadar NaCl garam yang dihasilkan mencapai lebih dari 97% agar memenuhi standar industri.
"Rote Ndao memiliki potensi lahan dan iklim yang sangat mendukung produksi garam. Kami siap berkontribusi menjadikan daerah ini sebagai lumbung garam nasional yang tangguh dan berdaya saing," ucap Frista.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....