Mandai, Olahan Kulit Cempedak yang Disukai dan Bernilai Ekonomi
- 11 Jul 2026 09:52 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Mandai merupakan makanan khas yang dikonsumsi masyarakat Kalimantan dan dibuat dari kulit bagian dalam buah cempedak. Selama ini, kulit cempedak sering dianggap sebagai limbah setelah daging buahnya dikonsumsi. Namun, melalui kreativitas masyarakat, bagian tersebut diolah menjadi makanan tradisional yang memiliki cita rasa khas dan kini semakin dikenal sebagai salah satu kuliner unggulan daerah.
Proses pembuatan mandai diawali dengan memisahkan kulit bagian dalam cempedak yang berwarna putih dari kulit luarnya yang keras. Bagian tersebut kemudian dicuci bersih, dipotong sesuai ukuran, lalu difermentasi menggunakan garam selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Fermentasi ini menghasilkan aroma dan rasa yang khas sekaligus membuat mandai lebih awet untuk disimpan.
| Baca juga: Kerupuk Camilan Enak Khas Indonesia |
Setelah proses fermentasi selesai, mandai dapat diolah menjadi berbagai hidangan. Cara yang paling populer adalah menggorengnya hingga berwarna keemasan sehingga menghasilkan tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam. Selain digoreng, mandai juga dapat dimasak menjadi tumisan, sambal, gulai, hingga campuran berbagai menu tradisional yang menggugah selera.
Di balik kelezatannya, mandai juga memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Kulit bagian dalam cempedak mengandung serat pangan yang bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan. Proses fermentasi juga berpotensi meningkatkan cita rasa sekaligus menghasilkan mikroorganisme baik yang dapat mendukung kualitas pangan, meskipun manfaat probiotiknya masih bergantung pada proses pengolahan dan cara penyajiannya.
Keberadaan mandai tidak hanya menjadi bagian dari warisan kuliner, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Banyak pelaku usaha mikro dan rumah tangga di Kalimantan mulai memproduksi mandai dalam bentuk segar maupun siap saji. Produk ini dipasarkan melalui toko oleh-oleh, pasar tradisional, hingga platform digital, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian lokal.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan lokal, mandai juga semakin sering diperkenalkan dalam berbagai festival kuliner dan pameran produk unggulan daerah. Inovasi pun terus berkembang, mulai dari mandai krispi, keripik mandai, hingga olahan beku yang lebih praktis. Beragam inovasi tersebut menjadi upaya untuk memperluas pasar tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang menjadi ciri khasnya.
Mandai menjadi bukti bahwa bahan pangan yang semula dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi melalui kreativitas dan kearifan lokal. Selain mendukung pengurangan limbah pangan, pelestarian kuliner tradisional seperti mandai juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Kalimantan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....