Kenali Batas Diri saat Berolahraga untuk Menjaga Kesehatan Jantung

  • 25 Mei 2026 16:43 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya — Kasus kematian mendadak setelah berolahraga semakin sering terjadi dan memicu kekhawatiran masyarakat. Banyak orang yang tampak bugar dan aktif secara fisik tiba-tiba kolaps akibat henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest). Fenomena ini menjadi bukti bahwa di balik berbagai manfaat olahraga, aktivitas fisik yang dilakukan secara berlebihan (overtraining) tanpa memahami batas kemampuan diri dapat menjadi bumerang bagi kesehatan jantung.

Henti jantung mendadak terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan organ tersebut tiba-tiba berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika seseorang memaksakan diri berolahraga dengan intensitas terlalu tinggi, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah besar. Lonjakan hormon tersebut, ditambah kondisi dehidrasi berat yang menguras elektrolit penting seperti kalium dan magnesium, dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) hingga menyebabkan henti jantung total.

Secara medis, penyebab kondisi fatal ini umumnya dibedakan berdasarkan usia. Pada kelompok usia di bawah 35 tahun, henti jantung sering dipicu oleh kelainan struktur jantung bawaan yang tidak terdeteksi, seperti kardiomiopati hipertrofi atau penebalan otot jantung. Sementara itu, pada kelompok usia di atas 35 tahun, penyebab yang paling dominan adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK). Dalam kondisi tersebut, olahraga berat yang dilakukan secara mendadak dapat memicu pecahnya plak kolesterol sehingga menyumbat aliran darah ke jantung.

Fakta medis juga menunjukkan bahwa pria memiliki risiko mengalami henti jantung mendadak saat berolahraga tiga hingga sembilan kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Selain itu, olahraga dengan ritme dinamis yang melibatkan gerakan berhenti dan melompat secara tiba-tiba, seperti futsal, badminton, dan basket, serta olahraga ketahanan ekstrem seperti maraton, menjadi jenis olahraga dengan angka kejadian tertinggi.

Dalam kondisi darurat, waktu menjadi faktor penentu keselamatan. Setiap menit yang berlalu tanpa pertolongan CPR (Resusitasi Jantung Paru) atau penggunaan alat pacu jantung otomatis (AED) dapat menurunkan peluang bertahan hidup korban sebesar 7 hingga 10 persen.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap individu untuk mengenali kemampuan tubuhnya dan tidak terjebak dalam ambisi maupun ego kompetisi. Jika ingin mencoba atau meningkatkan intensitas olahraga, prosesnya harus dilakukan secara bertahap (progressive overload) agar jantung dan pembuluh darah memiliki waktu untuk beradaptasi. Memaksa tubuh yang belum terlatih atau sudah lama tidak aktif untuk langsung melakukan aktivitas fisik berat merupakan langkah yang berisiko.

Sebagai langkah antisipasi, pemeriksaan kesehatan secara berkala, seperti rekam jantung (EKG) atau treadmill test, sangat disarankan bagi pencinta olahraga intensitas tinggi. Selain itu, masyarakat juga perlu lebih peka terhadap “alarm” yang diberikan tubuh saat berolahraga. Gejala seperti nyeri dada atau dada terasa tertekan, sesak napas yang tidak wajar, pusing, hingga jantung berdebar tidak normal (palpitasi) merupakan tanda bahwa tubuh membutuhkan istirahat dan pemeriksaan lebih lanjut.

Mari mengubah pola pikir bersama bahwa olahraga merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan, bukan ajang pembuktian diri yang mengabaikan keselamatan. Tetaplah berolahraga secara teratur dengan memperhatikan kondisi tubuh, menjaga keseimbangan intensitas latihan, serta memahami batas kemampuan diri. Mendengarkan sinyal tubuh jauh lebih bijaksana daripada memaksakan diri hingga membahayakan kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....