Terapi Pencegahan TBC Melindungi Masyarakat dari TB Laten
- 21 Apr 2026 20:02 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat akan bahaya Tuberkulosis (TBC) laten yang mengintai sebagian besar penduduk Indonesia. Mengingat posisi Indonesia sebagai negara dengan beban kasus TBC terbesar kedua di dunia, risiko keberadaan kuman yang "tertidur" di dalam tubuh individu sehat menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik jika tidak segera ditangani melalui langkah preventif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalteng, dr. Riza Syahputra, MAP, menjelaskan bahwa banyak individu yang sebenarnya sudah terinfeksi kuman namun tidak menyadarinya karena tidak adanya gejala klinis. Kondisi ini dikenal secara medis sebagai TB laten, kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah menetap di tubuh banyak orang, namun masih dalam fase dorman atau tidak aktif, sehingga orang tersebut belum bisa dikategorikan sebagai penderita sakit TBC.
Namun, dr. Riza mengingatkan bahwa kondisi "tidur" ini sewaktu-waktu dapat berubah menjadi aktif dan berbahaya apabila daya tahan tubuh seseorang menurun. Jika kuman tersebut mulai aktif, jumlahnya akan berlipat ganda dan mulai menyerang organ tubuh penderitanya.
"Ya dia kalau memang kondisi kita lemah, ya itu bisa aktif. Dan itu jumlahnya makin banyak. Diperkirakan itu sudah ada kuman TBC tapi masih belum aktif, belum menimbulkan gejala. Tinggal berkembang saat si orang ini kondisi tubuhnya lagi lemah atau terlalu capek," ujar dr. Riza saat mengisi dialog Kentongan di RRI Palangka Raya, Selasa, 21 April 2026.
Melalui penjelasan tersebut, dr. Riza menekankan bahwa faktor kelelahan fisik dan imunitas yang buruk adalah pemicu utama transisi dari TB laten menjadi TB aktif. Ketika seseorang masuk ke fase aktif, barulah gejala-gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan muncul, dan saat itulah mereka resmi menjadi penderita TB yang bisa menularkan kuman ke orang lain.
Sebagai langkah strategis untuk memutus rantai penularan dan menghancurkan kuman yang tertidur tersebut, pemerintah menggalakkan program Terapi Pencegahan TBC (TPT). Program ini bertujuan untuk membunuh kuman di dalam tubuh sebelum mereka sempat menyebabkan kerusakan atau gejala pada individu yang bersangkutan.
"Untuk mengatasi TB yang sedang tertidur itu, kita bisa menggunakan Terapi Pencegahan TBC namanya TPT tadi. Ini supaya jumlah kasus TBC ini, yang laten-laten ini bisa mati. Kumannya mati oleh karena obat TPT tadi," kata dr. Riza menambahkan.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengakses pengobatan ini, karena layanan TPT telah tersedia secara luas di fasilitas kesehatan. Pemberian obat TPT menjadi kunci utama agar kuman yang sudah ada di tubuh benar-benar musnah. Tanpa pengobatan pencegahan, kuman tersebut tetap menjadi "bom waktu" yang siap meledak kapan saja saat sistem imun manusia goyah.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta kepatuhan terhadap program Terapi Pencegahan TBC, diharapkan penyebaran tuberkulosis dapat ditekan sejak dini sehingga ancaman kuman laten yang tersembunyi di dalam tubuh tidak berkembang menjadi penyakit aktif yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....