Dinkes Kalteng Tingkatkan Pencegahan dan Deteksi Dini Penyakit TBC di Masyarakat

  • 20 Agt 2026 17:22 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat langkah strategis dalam menanggulangi dan mengeliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC) di tengah masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pencegahan dini, imunisasi, serta screening kesehatan untuk menemukan kasus TBC lebih cepat.

Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kalteng, Yaisar Wawan, menjelaskan bahwa imunisasi sejak bayi memiliki peranan penting dalam memberikan perlindungan awal terhadap infeksi bakteri penyebab TBC. Salah satu imunisasi yang berperan dalam pencegahan TBC adalah vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) yang diberikan sejak bayi.

“Jadi imunisasi ini adalah salah satu upaya yang paling cost effective ya, murah, meriah, gratis dan di samping itu juga dia memberikan dampak yang sangat baik terhadap menimbulkan kekebalan, terutama vaksin BCG dia akan menangkal terjangkitnya penyakit TBC,” ujar Yaisar dalam dialog interaktif di RRI Palangka Raya pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Selain memperkuat pencegahan melalui imunisasi, petugas kesehatan masih menghadapi tantangan berupa stigma dan rasa malu di tengah masyarakat. TBC terkadang masih dianggap sebagai penyakit yang harus ditutupi, sehingga sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri meskipun telah mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Untuk meningkatkan deteksi dini, pemerintah mengandalkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu fasilitas pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat. Melalui pemeriksaan tersebut, masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan.

Tantangan lainnya adalah memastikan pasien menjalani pengobatan TBC hingga tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan. Yaisar menegaskan, pasien yang merasa kondisi tubuhnya membaik setelah beberapa bulan pengobatan tidak boleh menghentikan konsumsi obat secara sepihak karena dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi obat.

“Satu yang menjadi kendala kita itu gagalnya orang yang minum obat TBC adalah ketika dia menginjak pengobatan minum obat selama tiga bulan dia merasa enak, padahal itu masih belum, harus tuntas tiga bulan, dan kalau gagal dia masuk ke resisten obat yang terapinya sampai dua tahun,” ucapnya.

Dinkes Kalteng mengimbau masyarakat untuk lebih proaktif menjaga kesehatan, tidak memberikan stigma kepada penderita TBC, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Deteksi dan pengobatan sejak dini, disertai kepatuhan menjalani terapi hingga tuntas, menjadi bagian penting dalam upaya bersama mewujudkan eliminasi TBC di Kalimantan Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....