Kabut Asap, Pusat Layanan Autis Kota Palangka Raya Memastikan Pelayanan Maksimal

  • 02 Sep 2026 10:44 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Palangka Raya memastikan anak berkebutuhan khusus (ABK) tetap mendapatkan penanganan dan pendampingan secara optimal. Meskipun kondisi kabut asap menyebabkan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, pelayanan dan pendampingan tetap berjalan.

Sebagai langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan anak, PLA Kota Palangka Raya di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya mengalihkan sementara sesi terapi tatap muka di pusat layanan menjadi program terapi dan pendampingan guru ke rumah anak.

Kebijakan tersebut dilakukan agar program terapi dan stimulasi bagi ABK tetap berjalan secara berkelanjutan, sekaligus meminimalkan risiko anak terpapar udara tidak sehat akibat kabut asap.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, mengatakan program pendampingan ke rumah dilaksanakan dengan pendekatan kolaboratif antara terapis dan guru. Keduanya melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk memberikan program terapi yang sebelumnya dilakukan di pusat layanan.

“Program pendampingan ke rumah ini menggunakan pendekatan ganda, yakni terapis dan guru melakukan visit serta memberikan program seperti yang dilakukan di pusat layanan, tetapi dialihkan ke rumah,” ujar Jayani, Selasa, 1 September 2026.

Menurutnya, melalui metode tersebut, orang tua juga dapat melihat secara langsung proses terapi serta berbagai aktivitas yang diberikan kepada anak. Dengan demikian, orang tua diharapkan dapat menerapkan kembali latihan sederhana di rumah menggunakan media yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kami berharap orang tua tetap membantu anak melakukan aktivitas latihan meskipun dengan keterbatasan media yang ada di rumah,” ujarnya.

Program terapi selama kondisi kabut asap ini difokuskan pada aspek sensori motorik dan kemandirian anak. Hal tersebut bertujuan agar anak tetap aktif melakukan kegiatan di dalam rumah selama aktivitas di luar ruangan dibatasi.

Kondisi keterbatasan aktivitas fisik di luar rumah juga menjadi perhatian karena anak berkebutuhan khusus dinilai lebih rentan mengalami kecemasan maupun perubahan perilaku ketika rutinitas aktivitas mereka terganggu. Melalui program terapi dan pendampingan guru ke rumah, tim PLA berharap orang tua dapat memahami secara langsung berbagai aktivitas sederhana yang dapat dilakukan bersama anak di rumah, sehingga keberlanjutan program terapi tetap terjaga. (MC Palangka Raya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....