Warga Diajak Waspadai Karhutla saat Musim Kemarau

  • 06 Agt 2026 19:49 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Memasuki musim kemarau 2026, masyarakat di Kalimantan Tengah diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat risiko kebakaran semakin tinggi, sehingga masyarakat diminta menjaga lingkungan, pekarangan, dan lahan pertanian agar tidak menjadi sumber api.

Wakil Ketua III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Junaidi, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Menurutnya, kewaspadaan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk menekan kejadian karhutla selama musim kemarau.

Ia mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga sekitar November 2026. Kondisi tersebut diperparah dengan suhu udara yang lebih panas dan lahan yang semakin kering sehingga material mudah terbakar.

Junaidi menjelaskan pemerintah tetap memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya warga Dayak yang menggantungkan mata pencaharian dari sistem perladangan. "Pembukaan lahan untuk menanam padi masih diperbolehkan melalui mekanisme pembakaran terbatas sesuai ketentuan dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2025 dengan memenuhi persyaratan perizinan dari tingkat RT, kepala desa atau lurah, hingga kecamatan," ujarnya, Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan upaya menyeimbangkan pengendalian karhutla dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Ia menegaskan penegakan hukum tetap harus dilakukan, disertai pendampingan teknis kepada warga agar pembukaan lahan berlangsung aman dan tidak menyebabkan api meluas.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengatakan sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan yang sebelumnya telah dibuka. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi tersebut menunjukkan masih tingginya potensi kebakaran yang dipicu aktivitas manusia.

Heri mengakui BPBD masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana dalam penanganan awal karhutla, seperti mesin pompa, selang pemadam, dan armada operasional. "Untuk penanganan banjir, relawan mengandalkan perahu kelotok guna menyalurkan bantuan ke wilayah yang akses jalannya terputus akibat genangan,” ucapnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan, segera melaporkan apabila menemukan titik api, serta bersama-sama mencegah karhutla agar tidak meluas selama musim kemarau yang menurut BMKG diperkirakan masih berlangsung hingga September dengan kemungkinan perubahan kondisi cuaca.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....