Permintaan Air Bersih Meningkat, Karhutla dan Kekeringan Tantangan Ganda di Kotim

  • 27 Jul 2026 10:13 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur tidak hanya meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), tetapi juga memicu bencana kekeringan yang berdampak pada kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Pemerintah daerah mencatat adanya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) dan kejadian kebakaran setiap hari, bersamaan dengan melonjaknya permintaan distribusi air bersih dari sejumlah desa di wilayah selatan Kotim.

Kepala BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur, Multazam, mengatakan saat ini Kecamatan Teluk Sampit menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak krisis air bersih. Selain Desa Ujung Pandaran, hampir seluruh desa di kecamatan tersebut telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih.

Permintaan serupa juga mulai muncul dari beberapa desa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar warga setempat mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih utama, sementara curah hujan telah lama tidak turun sehingga cadangan air rumah tangga semakin menipis.

“Pemerintah daerah bersama Perumdam Tirta Mentaya telah berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, keterbatasan armada menjadi kendala tersendiri. Saat ini tujuh unit mobil tangki air milik pemerintah masih difokuskan untuk mendukung operasi penanganan Karhutla,” ucapnya, Jumat, 24 Juli 2026.

Selain itu, kendaraan tangki yang digunakan untuk distribusi air bersih harus melalui proses pembersihan dan sterilisasi terlebih dahulu agar tetap higienis sebelum air disalurkan ke masyarakat. Permintaan air bersih yang bersifat berkala juga menjadi tantangan, karena satu desa dapat membutuhkan antara 15 ribu hingga 40 ribu liter air dan permintaan serupa kembali muncul dalam waktu sekitar satu pekan,

Di sisi lain, upaya penanganan Karhutla terus dilakukan di sejumlah lokasi yang masih aktif terbakar. Salah satu titik terbesar berada di Desa Eka Bahurui yang telah terbakar sejak awal bulan dan belum sepenuhnya padam karena minimnya sumber air di sekitar lokasi.

Petugas harus mengangkut air dari jarak ratusan meter hingga dua kilometer untuk melakukan pemadaman. Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah serta memanfaatkan dukungan Satgas Udara melalui operasi helikopter water bombing guna mengendalikan kebakaran yang masih terjadi di beberapa titik rawan.

Sementara itu warga desa Lampuyang Kabupaten Kowaringin Timur, Andiyadi, mengatakan warga Desa Lempuyang, mulai mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau telah berlangsung selama dua pekan. Sementara ini, masyarakat mengandalkan air hujan sebagai sumber kebutuhan sehari-hari.

Namun, karena hujan tidak kunjung turun, sumber air di kolam maupun rawa berubah menjadi asin akibat naiknya air laut sehingga tidak lagi layak digunakan untuk mandi maupun kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk membeli air bersih dari penjual keliling dengan harga Rp60 ribu per drum.

Dalam sehari, kebutuhan air untuk satu keluarga bisa mencapai dua drum atau sekitar Rp120 ribu. "Kalau kami terus beli air. Ini menjadi beban ekonomi yang cukup berat. Air asin tidak nyaman digunakan selain sabun sulit berbusa, tubuh juga terasa lengket, dan dapat menimbulkan rasa gatal setelah mandi," ujarnya.

Andiyadi mewakil warga Lampuyang berharap Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dapat memperluas jaringan Perumdam hingga menjangkau Desa Lempuyang. Karena saat ini layanan PDAM hanya tersedia di beberapa desa di antaranya Basawang hingga Sebabi, sementara untuk Desa Lempuyang belum terlayani.

Saat ini persoalan utama warga di beberapa desa di Kabupaten Kotawaringin Timur saat musim kemarau bukanlah kebakaran hutan dan lahan, melainkan keterbatasan akses air bersih yang hampir setiap tahun terjadi akibat sepenuhnya bergantung pada air hujan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....