Tim Pengendali Inflasi Daerah Kalteng Pantau Harga Jelang Ramadan

  • 05 Feb 2026 20:28 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng melakukan pemantauan harga secara langsung di kawasan Pasar Besar Palangka Raya. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan 1447 Hijriah.

Pemantauan tersebut dipimpin Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko. Ia mengatakan sidak dilakukan di sejumlah titik strategis, seperti Pasar Besar Palangka Raya, Pasar Kahayan, serta gudang Bulog.

Menurut Yuas Elko, pemantauan harga ini rutin dilakukan menjelang hari besar keagamaan. Langkah ini bertujuan memastikan harga tetap stabil seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan.

“Berdasarkan hasil pemantauan, sebagian besar harga komoditas pangan masih relatif stabil. Selain itu, ketersediaan stok beras di Bulog aman untuk empat hingga enam bulan ke depan,” ujarnya, Kamis 5 Februari 2026.

Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mulai mengalami kenaikan harga. Di antaranya cabai rawit dan cabai merah yang saat ini berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Selain bahan pangan, TPID Kalteng juga menaruh perhatian terhadap harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer. Di wilayah Kota Palangka Raya, harga LPG tercatat berkisar antara Rp35.000 hingga Rp38.000 per tabung.

Yuas Elko menambahkan, di daerah pedalaman harga LPG 3 kilogram bahkan bisa menembus Rp50.000 hingga Rp60.000 per tabung. Kondisi ini dinilai memerlukan kebijakan yang lebih terukur agar harga gas subsidi tetap terkendali dan terjangkau masyarakat.

Ia mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk menghadirkan inovasi kebijakan penetapan harga LPG di tingkat pengecer. Penetapan harga tersebut diharapkan mempertimbangkan jarak angkut sehingga terdapat standar harga yang jelas dan tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....