Kais Saied Diprediksi Menang Telak dalam Pemilu Tunisia: Exit Polls

  • 07 Okt 2024 10:15 WIB
  •  Voice of Indonesia

KBRN, Tunisia: Presiden petahana Tunisia, Kais Saied, diperkirakan memenangkan pemilihan presiden negara tersebut dengan dukungan sebesar 89,2 persen, meskipun tingkat partisipasi pemilih sangat rendah. Hal ini diungkapkan oleh hasil exit polls yang disiarkan di televisi nasional setelah penutupan tempat pemungutan suara pada Minggu. Menurut lembaga survei independen Sigma Conseil, Saied unggul jauh atas dua penantangnya, Ayachi Zammel yang dipenjara dengan perolehan 6,9 persen suara, dan Zouhair Maghzaoui yang memperoleh 3,9 persen.

Saied, yang berusia 66 tahun, diprediksi akan memenangkan pemilu dengan selisih suara yang besar. Namun, kemenangan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan kelompok HAM mengenai potensi penguatan otoritarianisme di Tunisia. "Legitimasi pemilu ini jelas tercoreng dengan adanya kandidat-kandidat yang seharusnya bisa menjadi pesaing Saied, namun disingkirkan secara sistematis," kata Hatem Nafti, seorang komentator politik. Kekhawatiran ini muncul setelah badan pemilu Tunisia, ISIE, melarang 14 calon untuk maju dalam pemilihan, dengan alasan kurangnya dukungan serta berbagai kendala teknis lainnya.

Tingkat partisipasi pemilih tahun ini hanya mencapai 27,7 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 45 persen pada tahun 2019 dan menjadi yang terendah sejak revolusi Tunisia 2011. Menurut pengamat Afrika Utara, Pierre Vermeren, "Legitimasi demokratis pemilu ini memang lemah, namun tidak ada ambang batas minimal." Sebagian besar warga Tunisia tampak apatis terhadap pemilu ini. Hosni Abidi, seorang warga berusia 40 tahun, mengaku khawatir akan adanya kecurangan setelah dua pengawas pemilu independen dilarang memantau jalannya pemilu. "Saya tidak ingin orang lain memilih untuk saya," ujarnya.

Saied memberikan suaranya bersama sang istri di lingkungan mewah Ennasr, sebelah utara Tunis, pada pagi hari pemilihan. Sesaat setelah hasil exit polls diumumkan, ratusan pendukung Saied turun ke jalan untuk merayakan kemenangan yang diprediksi ini. "Saya yakin dengan gagasan dan politiknya," kata Oumayma Dhouib, seorang pendukung berusia 25 tahun. Namun, kemenangan Saied ini juga disertai kritik dari dalam dan luar negeri, terutama sejak pengambilalihan kekuasaan pada 2021 yang membuatnya menulis ulang konstitusi dan menindak keras perbedaan pendapat.

Pengambilalihan kekuasaan yang dilakukan oleh Saied pada tahun 2021 menyebabkan banyak tokoh politik terkemuka ditahan, termasuk Ayachi Zammel, yang merupakan penantang utamanya dalam pemilu kali ini. Zammel kini menjalani hukuman lebih dari 14 tahun penjara karena dituduh memalsukan tanda tangan dukungan. Selain itu, Rached Ghannouchi, pemimpin partai oposisi Ennahdha, dan Abir Moussi, ketua Partai Destourian Bebas, juga berada di balik jeruji. Kedua tokoh tersebut dituduh mengancam stabilitas politik di Tunisia.

Dalam pidatonya pada hari Kamis, Saied mengajak rakyat Tunisia untuk berpartisipasi secara besar-besaran dalam pemilu, dengan menyebutnya sebagai era "rekonstruksi". Ia menuding adanya "perang panjang melawan kekuatan konspiratif yang terhubung dengan pihak asing" yang disebutnya telah menyusup ke berbagai layanan publik dan menghambat ratusan proyek pembangunan selama masa pemerintahannya. Namun, kritik terhadapnya tetap mencuat. "Banyak yang khawatir bahwa mandat baru bagi Saied hanya akan memperdalam krisis sosial-ekonomi negara dan mempercepat pergeseran ke arah otoritarianisme," kata International Crisis Group.

Meskipun Saied masih memiliki dukungan yang kuat di kalangan masyarakat pekerja, menurut analisis dari lembaga pemikir tersebut, banyak pihak menilai bahwa dia gagal mengatasi krisis ekonomi yang mendalam di Tunisia. Hal ini semakin mempertegas kekhawatiran bahwa Tunisia, yang dulunya menjadi simbol kebangkitan demokrasi di kawasan Arab, justru kini semakin menjauh dari nilai-nilai demokrasi. Salah seorang warga, Wajd Harrar (22), menyatakan kekecewaannya terhadap pemilu kali ini. "Pada tahun 2019, orang-orang memilih presiden yang buruk," ujarnya. "Sekarang, saya punya hak untuk memilih, dan saya akan memberikan suara saya kepada kandidat yang paling tidak buruk."

Kekhawatiran akan manipulasi hukum juga tampak dari aksi protes yang digelar pada hari Jumat, di mana ratusan orang berkumpul di ibu kota dengan membawa spanduk yang menyebut Saied sebagai "Firaun yang memanipulasi hukum." Hasil resmi sementara pemilu Tunisia ini rencananya akan diumumkan oleh badan pemilu pada hari Senin.

Sumber: AFP

News Recomendation

Latest News

Loading latest news.....