Dari Jarum hingga Air Mata: Perjuangan Norlina Bangun Bisnis Kain Sasirangan
- 29 Jun 2026 23:31 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Martapura– Matahari sore menyelinap masuk lewat jendela, menyinari barisan kain sasirangan yang tergantung di gawangan. Norlina Kamsiah (41) berdiri tepat di depannya, menatap lekat detail motif jelujur yang membentuk garis-garis.
Setiap pola jelujur dari kain itu, seketika melempar ingatannya ke masa SMA. Saat itu, ia harus duduk membungkuk berjam-jam, menusukkan jarum ke lembar-lembar kain demi bisa mengenakan seragam putih abu-abu.
Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, dia dipaksa keadaan untuk ikut memeras keringat sejak belia. Perceraian kedua orang tuanya menjadi pemantik baginya untuk turun tangan membantu sang ibu.
"Waktu itu saya bekerja menjelujur kain sasirangan untuk membantu ibu menopang ekonomi keluarga," kenang Norlina saat ditemui di galeri rumahnya, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu, 28 Juni 2026.
Pekerjaan menjelujur yang dilakoni sejak bangku sekolah itu terus dijalankannya hingga menikah. Namun, penghasilan dari juragan sasirangan sekitar Rp7.500 per minggu hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan dapur.
Setelah bertahun-tahun mengumpulkan pengalaman, Norlina membulatkan tekad untuk mandiri. Keterampilan yang telah ia asah sejak remaja dijadikan modal utama untuk membangun usaha sendiri.
Pada tahun 2018, ia merintis bisnis kain sasirangan yang menggunakan pewarna alami. Dengan modal awal Rp500 ribu, ia membeli bahan kain katun yang kemudian ia jelujur dan warnai di dapur rumahnya.
Butuh proses waktu satu pekan, untuk untuk membuat kain sasirangan. Mulai dari membeli bahan, menjelujur, memuat pewarna alami, hingga memberikan warna pada kain.
"Untuk pewarnaan, kami menggunakan pewarna alami dari ekstrak tumbuhan. Pigmen warna itu dikeluarkan melalui proses ekstraksi, agar warna yang dihasilkan punya kepekatan yang matang," ujarnya.
Keberanian itu berbuah manis. Tiga karya perdananya di Banjarmasin Sasirangan Festival sukses terjual dengan harga Rp2,7 juta. Seluruh keuntungan itu dikembangkan dengan membeli satu rol kain.
Usahanya pun perlahan mulai dikenal. Namun, setelah dua tahun merintis, pandemi Covid-19 melanda. Wabah itu membuat pintu-pintu pameran terkunci rapat. Dia memutuskan untuk mengubah strategi pemasaran ke arah digital.
Melalui kamera ponselnya, ia mendokumentasikan setiap proses pembuatan kain sasirangan. Rekaman itu diedit menjadi video berdurasi 60 detik dan disebarluaskan ke berbagai platform media sosial demi menjaring pasar yang lebih luas.
"Jika awalnya pemasaran sangat mengandalkan bazar dan pameran, setelah pandemi saya memutuskan untuk menjalankan usaha dari rumah dengan memanfaatkan media sosial," tuturnya.
Namun, cobaan berat kembali menerpanya pada Agustus 2021. Bayi mungilnya yang berumur tiga bulan mengembuskan napas terakhir. Kehilangan itu seketika merobohkan pertahanan mentalnya sebagai seorang ibu.
Selama proses pemulihan, usahanya terbengkalai. Ruang produksinya menjadi senyap. Tungku-tungku perebus ekstrak tanaman mendingin, dan ratusan jarum jelujur dibiarkan tergeletak tak tersentuh.
"Peristiwa itu seakan membuat dunia ini rasanya hancur. Namun, saya berpikir ini jalan hidup yang harus dijalani," ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca mengingat masa-masa tersebut.

Keinginan untuk menata kembali usahanya bergemuruh di pertengahan tahun 2022, tetapi keterbatasan modal membuatnya sempat tertahan. Beruntung, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikannya akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp25 juta.
Dana itu digunakan untuk membeli bahan baku kain dan pewarna alam. Di ruang produksi yang sempat vakum itulah, kain sasirangan ramah lingkungan akhirnya beroperasi kembali. Dari sana, dia kembali melakukan pemasaran lewat media sosial dan berbagai pameran.
Berkat hal itu omset Norlina mengalami peningkatan dari yang mulanya Rp3 Jutaan menjadi Rp8 jutaan setiap bulan. Untuk harga kain saringan dibanderol mulai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu dengan wilayah pemasaran mencakup Kalimantan dan Jawa.
"Untuk setiap bulannya, saya memproduksi sekitar 20 hingga 35 lembar kain sasirangan," katanya.
Perlahan, dia pun mulai melibatkan lima ibu rumah tangga sekitar lingkungannya. Mereka dilatih membuat kain sasirangan, mulai dari teknik menjelujur hingga mewarnai. Sebagian hasil karyanya ditampung untuk dipasarkan kembali.
"Untuk membuat kain sasirangan butuh waktu sekitar seminggu, jadi jika ada pesanan banyak tidak mungkin saya kerjakan sendiri," ungkapnya seraya tersenyum.
Salah satu pelanggan asal Banjarmasin, Auliya, mengaku sengaja memilih kain sasirangan pewarna alam buatan Norlina karena faktor kenyamanan. Ia merasa kain dengan pewarna alami lebih terasa adem saat dikenakan.
"Kain dengan pewarna alami terasa adem saat digunakan. Berbeda dengan kain pewarna sintetis yang cenderung terasa lebih panas dan kaku," kata Auliya.
Sementara itu, Akademisi Universitas Palangka Raya, Cahyo, menjelaskan bahwa kain sasirangan merupakan wastra tradisional khas suku Banjar, yang bernilai estetika tinggi karena dibuat manual dengan teknik celup ikat dan jelujur.
"Potensi kain ini sangat menarik. Selain bernilai seni, penggunaan pewarna alami menjadikan produknya ramah lingkungan sehingga ikut menjaga kelestarian ekosistem sungai dan meningkatkan ekonomi," ungkap Cahyo.
Upaya yang dilakukan Norlina selaras dengan komitmen BRI dalam mendukung ekonomi hijau. Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu, menegaskan pihaknya mendukung transisi UMKM menuju model bisnis yang ramah lingkungan melalui penyaluran pembiayaan.
"Kami terus memperkuat penyaluran kredit yang berorientasi pada keberlanjutan, mencakup pembiayaan UMKM dan dukungan terhadap sektor lainnya yang ramah lingkungan di berbagai wilayah," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....