Didera Sakit Gigi, Mahasiswi Ini Terbantu Aplikasi Pesan Antar Obat Besutan BRI
- 22 Mei 2026 15:17 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Akhir April lalu, Depita (21) dibuat kelabakan akibat sakit gigi yang menyiksanya. Ia terjebak sendirian di kamar kos berukuran 5x4 meter di Jalan G. Obos VI, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Saat nyeri di rahangnya kian berdenyut, langit justru menyuguhkan hujan yang mengurungkan niatnya pergi ke apotek. Beruntung, kemajuan teknologi malam itu berpihak padanya.
Gadis 21 tahun itu meringkuk di sudut kasur. Tangan kanannya menekan pipi yang mulai membengkak, berharap rasa hangat dari telapak tangan bisa sedikit meredam ngilu yang menyiksa. Ia melirik meja belajar, tidak ada sebutir pun parasetamol atau obat pereda nyeri yang tersisa.
Depita sempat bangkit, berniat menerobos hujan ke apotek terdekat. Namun, saat membuka pintu kos, angin malam yang dingin langsung menusuk tulang, disusul kilatan petir yang menyambar langit.
Nyalinya ciut. Berjalan kaki dalam kondisi lemas di bawah guyuran hujan deras jelas bukan pilihan bijak untuk mahasiswi semester akhir Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya tersebut.
"Benar-benar bingung malam itu. Mau beli obat ke apotek hujan deras, tapi kalau diam saja rahang makin tidak karuan," ujar Depita mengenang momen tersebut, Kamis, 21 Mei 2026 kepada RRI Palangka Raya.
Kembali ke kasur, ia menatap layar gawainya dengan nanar. Ibu jari bergerak cepat di atas kaca, berselancar mencari informasi tentang layanan pesan antar obat pada malam hari.
Hingga akhirnya, mesin pencari di internet mengarahkannya pada aplikasi BRImo. Aplikasi yang biasanya ia gunakan untuk mengecek kiriman bulanan dari orang tua di kampungnya, Desa Petak Puti, Katingan.
Dengan sisa-sisa fokus yang tersisa, Depita membuka aplikasi tersebut dan menelusuri menu di dalamnya. Matanya melebar saat menemukan fitur layanan kesehatan dan pembelian obat. Tanpa berpikir dua kali, ia menekan tombol konfirmasi.
Ketukan sidik jari menyelesaikan pembayaran dalam hitungan detik. Depita kembali berbaring, memejamkan mata rapat-rapat sambil menghitung waktu. Rasa sangsi sempat terlintas di kepalanya.
“Benar tidak ya obatnya bakal diantar dalam kondisi badai begini?” ujarnya.
Belum genap 30 menit berlalu, sebuah ketukan terdengar di pintu kos. Depita tersentak, lalu bergegas membuka pintu. Di hadapannya, berdiri seorang kurir dengan jas hujan yang basah kuyup. Butiran air menetes deras dari helmnya, membasahi lantai teras.
Namun, dari balik dekapan jaket pelindungnya, sang kurir mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil yang benar-benar kering. Menerima bungkusan itu, Depita seketika bergemuruh oleh rasa haru.
Baginya, BRImo menjadi juru selamat bagi kesehatannya. Pengalaman itu membuatnya tersadar, teknologi kini telah menjadi teman terbaik di masa-masa sulit.
Aplikasi yang berhasil menyelamatkan Depita dari siksaan sakit gigi itu rupanya memantik perhatian akademisi kesehatan di Kalimantan Tengah. Dosen Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya, Ners Wijaya Atmaja Kusuma, mengapresiasi kolaborasi antara sektor perbankan dan jaringan apotek raksasa ini.
"Inovasi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan untuk mengonsumsi obat tertentu secara teratur, seperti obat hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Namun secara keilmuan, perlu ada mekanisme untuk memvalidasi resep sebelum menyerahkan obat kepada pembeli," ujar Ners Wijaya.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan langkah nyata untuk mempermudah masyarakat melalui layanan digital yang terintegrasi. Untuk memperluas jangkauan akses, pihaknya menggandeng jaringan Apotek K-24 di seluruh Indonesia.
Inovasi ini diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan obat darurat tanpa harus keluar rumah. “BRImo merupakan super app yang menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk akses kesehatan seperti pembelian obat yang praktis dan cepat,” tutur Dhanny.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....