Jejak Sanggar Darung Tingang Mengangkat Martabat Budaya Dayak di Bulgaria
- 27 Feb 2026 16:23 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Denting musik tradisi Dayak menggema hingga ke daratan Eropa. Di tengah musim dingin Bulgaria, gerak lincah dan penuh makna dari Kalimantan Tengah itu tampil percaya diri di panggung internasional. Di balik perjalanan tersebut, ada nama Sanggar Darung Tingang yang dipimpin Siti Habibah.
Ketua Sanggar Darung Tingang, Siti Habibah, menceritakan bahwa perjalanan mereka ke Bulgaria bukanlah satu kali, melainkan sudah empat kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir. “Kami sudah empat kali ke Bulgaria,” ujarnya.
Perjalanan pertama terjadi pada September–Oktober 2024. Saat itu, Siti Habibah diminta secara resmi untuk mengajar Tari Dayak selama satu bulan di KBRI Sofia. Undangan tersebut menjadi pintu awal diplomasi budaya yang lebih luas.
Masih di tahun yang sama, pada November 2024, Sanggar Darung Tingang kembali bertolak ke Bulgaria untuk mengikuti Morning Festival di Bansko. Hasilnya membanggakan. Mereka meraih Juara 1 Tari Ethno Solo usia 4–10 tahun serta Juara 1 Tari Ethno tingkat umum. Prestasi ini mempertegas bahwa seni tradisi Dayak mampu bersaing di panggung global.
.webp)
Pada November 2025, undangan kembali datang dari KBRI Sofia untuk menjadi pengisi acara Resepsi Diplomatik Hubungan Indonesia dan Bulgaria. Kehadiran mereka bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi bagian dari penguatan hubungan bilateral melalui jalur budaya.
Puncaknya terjadi pada Januari 2026 saat Sanggar Darung Tingang tampil di Surva Festival yang digelar di Pernik pada 16–18 Januari dan 23–25 Januari 2026. Meski awalnya diminta tampil di dua periode, kendala keterlambatan visa Schengen membuat mereka hanya dapat berpartisipasi pada 23–25 Januari.
Namun kesempatan itu menjadi momen bersejarah. Surva Festival 2026 menjadi tahun pertama Indonesia tampil dalam festival tersebut. Biasanya, peserta hanya berasal dari negara-negara Eropa atau negara tetangga Bulgaria.
“Jadi mereka sangat senang dan kami dijamu secara langsung oleh Deputy Mayor untuk makan siang bersama dan Party pada malam harinya sembari membahas Surva Festival 2027,” ucap Siti Habibah.

Dalam festival itu, mereka membawakan Tari Babukung yang mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat lokal. Penonton menilai pertunjukan tersebut sebagai representasi kuat identitas budaya dan kebanggaan kolektif terhadap warisan Dayak Kalimantan Tengah.
Tak hanya tampil, Sanggar Darung Tingang juga menggelar Workshop Tari Bahalai bersama profesor dan mahasiswa di New Bulgarian University (NBU). Respons yang diberikan sangat positif dan konstruktif. Workshop dinilai sebagai media pembelajaran kontekstual yang efektif untuk memperkenalkan seni tradisi berbasis kearifan lokal.
Melalui pendekatan partisipatif dan praktik langsung, para peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai nilai filosofis, simbolik, dan sosial yang terkandung dalam Tari Bahalai. Seni bukan lagi sekadar tontonan, tetapi menjadi ruang dialog lintas budaya.

Di balik semua itu, perjalanan ini bermula dari sebuah pertemanan. Siti Habibah menjalin relasi sejak 2016 dengan seorang warga Bulgaria yang kini menjadi staf lokal di KBRI Sofia. Mereka bertemu saat Siti membuka Workshop Tari Dayak di acara Bali Spirit di Ubud, ketika sahabatnya itu masih menjadi mahasiswa ISI Denpasar. Kemampuan berbahasa Indonesia dan pemahaman budaya membuat komunikasi tetap terjalin hingga akhirnya membuka peluang tampil di Surva Festival.
Meski sempat ragu karena persoalan pendanaan, secercah harapan datang pada Desember 2025. Komunikasi kembali berlanjut, hingga akhirnya Sanggar Darung Tingang resmi menjadi bagian dari Surva Festival 2026.
Bagi Siti Habibah, keikutsertaan ini bukan sekadar perjalanan seni. Ini adalah pesan untuk generasi muda Dayak. “Jangan ragu menjadi Dayak. Akar budaya bukan penghambat mimpi, justru modal untuk melangkah lebih jauh,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa anak muda Dayak boleh modern, global, dan berpendidikan tinggi, namun tetap berpijak pada nilai leluhur: keberanian, kebersamaan, penghormatan pada alam, dan jati diri.
Melestarikan budaya, menurutnya, tak harus selalu melalui cara lama. Bisa lewat seni pertunjukan, festival internasional, media digital, riset, maupun kolaborasi lintas bangsa. “Intinya, kitalah pewaris sekaligus penentu masa depan Budaya Dayak,” katanya.
Dari Palangka Raya ke Pernik, dari panggung lokal ke festival dunia, Sanggar Darung Tingang membuktikan bahwa budaya Dayak hidup, bernilai, dan relevan—bahkan ketika berdialog dengan tradisi dari berbagai penjuru dunia.