Tantangan Ramadan CPNS di Tanah Perantauan
- 20 Feb 2026 22:36 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Momen Ramadan di tanah perantauan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang. Suasana yang berbeda dari kampung halaman membuat ibadah terasa tidak sama seperti biasanya.
Hal ini pun dialami oleh Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) asal Jawa Timur, Masrur Adiputra. Adiputra yang akrab disapa Uta harus ikhlas menjalani Ramadan jauh dari orang tua dan keluarga.
Tahun ini ia berpuasa sambil menjalankan tugas sebagai CPNS di Kota Palangka Raya. Ia juga dituntut beradaptasi dengan lingkungan kantor baru yang memiliki suasana dan ritme kerja berbeda dari sebelumnya.
"Terutama karena sekarang ini saya menjalankan tugas sebagai CPNS di perantauan jika tahun lalu itu saya masih bisa berbuka puasa dan sahur bersama keluarga di rumah nih. Tapi buat tahun ini itu harus beradaptasi dengan lingkungan baru, lalu ritme kerja kantor, serta suasananya itu memang beda banget," katanya, Jumat, 20 Februari 2026.
Hal yang sama juga dialami CPNS perantau asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Febri Nugroho. Ia mengatakan Ramadan tahun ini memberikan tantangan yang berbeda dibanding tahun sebelumnya. Selain jauh dari keluarga, dirinya juga harus membagi fokus ibadah dengan pekerjaan sehari-hari sebagai teknisi.
"Menurut saya Ramadan tahun ini terasa cukup berbeda karena dijalani sambil menjalankan tugas sebagai CPNS di perantauan. Jika tahun lalu kan lebih banyak bersama keluarga sekarang harus membagi fokus antara pekerjaan, adaptasi lingkungan baru dan berusaha menjaga kualitas ibadah meskipun di perantauan," katanya.
Keduanya pun memiliki momen-momen spesial yang dirindukan saat menjalani Ramadan bersama keluarga. Sahur dan berbuka bersama sambil berbincang hangat menjadi kenangan yang sulit tergantikan. Mereka juga merindukan makanan khas daerah asal hingga tradisi sahur keliling yang tidak ditemui di tanah perantauan.
Bagi para perantau yang menjalani Ramadan jauh dari keluarga, Uta berharap hari-hari tetap dijalani dengan semangat. Ia menilai kondisi ini bisa menjadi proses pendewasaan diri dan melatih kemandirian. Selain itu, jarak justru dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan keluarga melalui doa dan komunikasi.
"Saya ingin menyampaikan agar tetap semangat dan menjadikan momen ini sebagai proses pendewasaan diri. Jarak itu bukan berarti mengurangi makna Ramadan tapi justru bisa menjadi kesempatan untuk melatih kemandirian dan memperkuat hubungan dengan keluarga melalui doa serta komunikasi jarak jauh," katanya.
Ramadan di perantauan memang menghadirkan rasa rindu yang berbeda. Namun di balik rasa tersebut, ada kebanggaan dan tanggung jawab sebagai abdi negara yang tetap dijalankan. Dengan semangat dan niat yang kuat, Ramadan tetap bisa dijalani dengan penuh makna meski jauh dari keluarga.