Korean Dream Webinar Series 4 Youth for One Korea

  • 24 Jul 2025 16:44 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Global Peace Foundation (GPF) Indonesia kembali menyelenggarakan rangkaian Korean Dream Webinar Series yang keempat dengan tajuk “Youth for One Korea: Building Peace Through Environmental Action”, sebuah forum daring yang menghadirkan pemuda-pemudi lintas negara untuk menyuarakan dukungan terhadap perdamaian dan reunifikasi Korea melalui pendekatan aksi lingkungan.

Webinar ini diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai negara dan dibuka oleh Salsa Bila selaku Master of Ceremony. Dalam sambutannya, Salsa menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya menciptakan dunia yang damai dan berkelanjutan.

Acara dilanjutkan oleh sambutan pembuka yang disampaikan oleh Shintya Rahmi Utami, General Manager GPF Indonesia. Dalam pidatonya, Shintya menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme para pemuda dalam menjadikan isu lingkungan sebagai sarana membangun perdamaian.

“Ketika diplomasi formal tak lagi efektif dalam menyelesaikan konflik, lingkungan justru membuka ruang kolaborasi. Kerja sama dan aksi lingkungan secara lintas batas dapat menjadi salah satu strategi menuju Korea yang bersatu,” katanya.

Menurut Shintya, kerja sama lingkungan dapat berfungsi sebagai soft diplomacy yang efektif, terutama di tengah keterbatasan dialog politik antar negara yang terlibat konflik. Webinar ini menghadirkan tiga pembicara muda inspiratif yaitu, Jaya Setiawan Gulö, Global Peace Leadership Corps Fellow dari Indonesia; Enkhjin Bayartsogt, relawan GPF Mongolia dan anggota My Club Online Eco Community; Rumit Walia, perwakilan Global Peace Leadership Corps.

Diskusi utama dimulai oleh Jaya Setiawan Gulö, dipandu oleh moderator Nur Fahmi Assidiq. Gulö mengangkat refleksi pribadinya tentang bagaimana krisis lingkungan dan konflik sosial saling berkaitan dekat kampung halamannya. Ia bercerita bahwa di daerah Nias, Indonesia yang kaya akan pohon kelapa sebagai sumber pangan dan ekonomi masyarakat, kini terdampak oleh perubahan iklim. Banyaknya pohon kelapa yang mati memaksa masyarakat mencari sumber makanan alternatif, termasuk memancing ikan. Namun, bahkan hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena degradasi ekosistem laut.

Tak jauh dari sana, di wilayah Aceh, pernah muncul gerakan separatisme yang memunculkan ketegangan sosial. Namun, setelah tsunami besar melanda Aceh dan Nias yang menghancurkan infrastruktur dan ekonomi lokal, muncul kesadaran kolektif dari masyarakat setempat terhadap pentingnya perlindungan alam karena melihat wilayah selatan dan timur Aceh yang memiliki banyak hutan mangrove ternyata relatif terlindungi dari dampak bencana besar tersebut.

“Setelah tsunami, masyarakat Aceh menyadari bahwa mangrove bukan hanya sebagai pelindung pantai, tetapi juga menjadi simbol harapan karena dengan menanam pohon menjadi kegiatan yang menyatukan mereka. Aksi sederhana ini akhirnya bisa membangun rasa persatuan di sana,” ujar Gulö.

Kisah ini menjadi titik balik baginya untuk melihat bahwa pelestarian lingkungan juga merupakan soal perdamaian. Hal inilah yang kemudian mendorongnya aktif dalam berbagai program kepemudaan dan lingkungan, termasuk saat ia menjadi young reporter di Korea Selatan dalam South Korea Forest Conference tahun 2022.

“Restorasi lingkungan adalah bagian dari restorasi sosial. Pemerintah, akademisi, swasta, media dan masyarakat harus bergerak bersama. Itulah yang dinamakan dengan pendekatan pentahelix,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya konkret, Gulö memimpin penanaman mangrove di Indonesia, sebanyak 200 bibit sudah ditanam pada 20 Juli 2025 dan akan dilanjutkan dengan penanaman 1.000 bibit pada Hari Mangrove Internasional pada 26 Juli 2025 di Tangerang. Ia mengajak partisipan dan masyarakat umum untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.

“Pemerintah punya dana dan kebijakan, tapi kita sebagai anak muda punya hak untuk memberi masukan. Mari kita tanam pohon dan dengan begitu kita juga menanam perdamaian,” kata Gulö.

Pembicara selanjutnya, Enkhjin Bayartsogt dari Mongolia, membuka diskusinya dengan memberikan pertanyaan “Apa hubungan pohon dengan perdamaian?” kepada audiens. ia berpendapat bahwa menanam, telah berhasil menjadi tempat banyaknya orang dengan latar belakang yang berbeda untuk berkumpul dan berdialog.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya dengan berbagi pengalaman tentang komunitas ekologisnya, “My Club Online Eco Community” yang aktif menanam pohon di Ulaanbaatar, Mongolia dan telah menanam lebih dari 2,5 juta pohon. Selain itu, di Mongolia juga terdapat gerakan nasional “Billion Tree National Movement” untuk mencapai target penanaman satu milyar pohon di akhir tahun.

“Warga Korea Utara dan Korea Selatan datang ke Mongolia untuk menanam bersama. Saya pernah menanam di Kedutaan Besar Korea Utara. Asumsi awal yang saya miliki tentang Korea Utara yang terlihat kaku, seketika berubah menjadi normal. Itu pengalaman yang membuka mata saya.

Anak muda punya peran penting dalam menyatukan bangsa. Melalui penanaman pohon, kita meninggalkan warisan yang akan tumbuh ratusan tahun ke depan dan ini bisa menjadi alat untuk mewujudkan mimpi bersama Korea Utara dan Selatan," kata Enkhjin.

Enkhjin percaya aksi-aksi lingkungan dapat menjadi salah satu cara untuk menghilangkan asumsi ataupun stigma negatif terhadap satu sama lain dan pemudalah yang akan membantu dua bangsa untuk bersatu dengan aksi lingkungan yang dapat membangun perdamaian, ketika politik dianggap tidak dapat melakukannya.

Sebagai pembicara penutup, Rumit Walia menyoroti tiga pilar utama dari Global Peace Leadership Corps yakni, pelayanan, kepemimpinan dan pendidikan yang semuanya terhubung melalui semangat untuk melakukan konservasi lingkungan.

Pilar pertama, pelayanan, ditunjukkan melalui aksi lingkungan seperti penanaman pohon, pembersihan sampah dan aktivisme tentang iklim. Program ini menekankan konservasi lingkungan sebagai tujuan universal yang melampaui perbedaan kebangsaan, agama dan etnis yang menyatukan masyarakat global untuk memerangi perubahan iklim dan mempromosikan perdamaian.

“Aksi lingkungan seperti menanam pohon, menjaga laut dan mengurangi limbah plastik adalah cara praktis untuk membangun perdamaian sekaligus mencetak pemimpin masa depan yang berkualitas,” ujar Rumit.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan iklim di sekolah-sekolah. Di banyak negara, pendidikan iklim dan lingkungan telah diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional, seringkali dijadikan sebagai bagian dari Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) dalam kerangka Perjanjian Paris.

Pendidikan ini secara aktif membuat siswa belajar cara menanam pohon hingga memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan untuk memantau data iklim dan menganalisis pola seperti pengungsi iklim (climate refugees). Rumit juga menyoroti bahwa banyak konflik sejarah justru bermula dari perebutan lahan dan air, sehingga aksi pelestarian bisa menjadi solusi pencegahan konflik jangka panjang.

“Perubahan iklim adalah isu lintas batas yang menyatukan kita. Dengan bekerja sama melestarikan bumi, kita sekaligus membangun jembatan menuju tercapainya perdamaian global," ucapnya.

Hubungan antara konservasi lingkungan dan pembangunan perdamaian sangatlah mendalam. Konservasi lingkungan mendorong pembangunan perdamaian dengan cara mengatasi konflik yang berakar pada persaingan sumber daya alam. Kolaborasi internasional terkait aksi lingkungan dianggap mampu membangun kepercayaan dan membuka dialog antara pihak yang berkonflik.

Selain dampak ekologis, Rumit menyoroti adanya makna simbolis dari tindakan seperti bersih-bersih sampah yang biasanya dilakukan dengan cara membungkuk untuk memungut sampah orang lain yang menunjukkan kesediaan untuk memikul tanggung jawab di luar tanggung jawab diri sendiri, sebuah metafora untuk menyelesaikan konflik dengan mengatasi kekacauan bersama, alih-alih terus-menerus menyalahkan orang lain.

Kemudian, sesi tanya jawab berlangsung dinamis, para narasumber menjawab pertanyaan seputar cara meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat, perspektif pemerintah terkait lingkungan, serta bagaimana aksi ekologis bisa menjadi bentuk diplomasi dalam isu seperti reunifikasi Korea.

Webinar ini kemudian ditutup dengan seruan bersama untuk mewujudkan perdamaian, keberlanjutan dan persatuan, serta harapan agar semangat Korean Dream terus hidup dalam diri setiap generasi muda di seluruh dunia.

Rekomendasi Berita