Pengamat Ekonomi : Karhutla Memberikan Tekanan Terhadap Inflasi Kalteng

  • 05 Okt 2026 11:04 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pengamat Ekonomi yang juga dosen Universitas Kristen Palangka Raya, Rawing Rambang mengamati bahwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang saat ini masih terjadi, berpotensi memberikan tekanan terhadap perkembangan inflasi daerah pada September 2026.

Rawing Rambang menjelaskan, kondisi karhutla perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat, distribusi barang, hingga ketersediaan dan harga sejumlah komoditas pangan.

Menurutnya tekanan inflasi juga berkaitan erat dengan kondisi pasokan, distribusi dan rantai pasok yang dapat terganggu ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem maupun bencana lingkungan.

"Aktivitas ekonomi itu jauh menurun sampai 40-60 persen. Kemudian memang sementara ini larangan beraktivitas di luar itu memang ada. Artinya walaupun secara tidak resmi, tapi memang padahal masyarakat tidak beraktivitas di luar. Karena kabut asap ini luar biasa. Jadi ini tidak hanya berdampak kepada ekonomi. Sosial juga sangat berpengaruh dalam artian interaksi dengan orang lain terganggu," ucapnya.

Pengendalian inflasi perlu dilakukan melalui peningkatan produksi pangan strategis seperti kerja sama antarwilayah produsen, operasi pasar, subsidi angkutan bahan pokok serta pengawasan distributor untuk menjaga ketersediaan barang dan mencegah kenaikan harga yang semakin tinggi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah, inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 5,02 persen pada September 2026 dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 113,51.

Kabupaten Kapuas masih menjadi daerah dengan inflasi tertinggi pada September 2026 sebesar 6,00 persen dengan IHK 114,65. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Sampit sebesar 4,2 persen dengan IHK 112,5.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....