OJK Kalteng Beri Penyuluhan Kepada Penyuluh Agama dan Penghulu
- 25 Feb 2026 22:13 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Dalam rangka menyemarakkan Bulan Suci Ramadan 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalteng menggelar Training of Trainers (ToT) Pengelolaan Keuangan Syariah dan Pengenalan Indonesia Anti Scam Centre (IASC). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah tersebut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag Kalteng, Kepala Perwakilan BI Kalteng, Ketua MES Kalteng, serta para penyuluh agama, penghulu, dan pengurus masjid dari seluruh kabupaten/kota secara hybrid.
Berdasarkan data riset yang dipaparkan, sebanyak 72 persen kesehatan mental dipengaruhi oleh kesehatan keuangan, sementara 45 persen ketidakpastian finansial masa depan menjadi faktor utama penyebab stres. Bahkan, 33 persen perceraian di Indonesia dipicu faktor ekonomi. Melihat urgensi tersebut, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta sebagai agen edukasi keuangan syariah di masyarakat, khususnya selama Ramadan.
Melalui kegiatan ini diharapkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan yang baik, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus aktivitas keuangan ilegal semakin meningkat.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan bahwa penyuluh agama dan penghulu memiliki peran strategis, terutama saat memberikan bimbingan perkawinan kepada calon pengantin.
“Di titik inilah edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga menjadi krusial. Tanpa pemahaman yang baik, calon pengantin sangat rentan terjebak dalam keputusan finansial berisiko sejak awal membangun rumah tangga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Kalteng, Yuliansah Andrias, menyoroti tantangan di era digitalisasi. Ia menyampaikan bahwa kemudahan transaksi digital harus diimbangi dengan literasi dan kewaspadaan terhadap potensi penipuan.
Ia mengungkapkan indeks keamanan digital Indonesia masih tertinggal di angka 40,4 persen, sehingga kasus penipuan atau scam di sektor keuangan masih marak terjadi. “Saya menghimbau masyarakat dengan tagline ‘Kalau Ragu, Stop Dulu’, agar selalu mengecek setiap menemukan modus digital mencurigakan dan melaporkannya melalui kanal resmi,” katanya, Senin, 23 Februari 2026.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Amruddin. Ia menilai kegiatan ini sebagai program strategis untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah.
“Saya berharap kegiatan ini mampu memberikan pemahaman yang baik tentang keuangan syariah serta memperkuat lembaga jasa keuangan syariah, sehingga ekonomi syariah dapat menjadi pilar kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Kegiatan ToT kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi pengelolaan keuangan syariah oleh narasumber dari OJK, Bank Indonesia, dan MES Kalteng, serta sesi diskusi interaktif yang diikuti peserta secara luring maupun daring.