Pengamat : Konflik Timur tengah Mempengaruhi Harga Minyak
- 12 Mar 2026 22:55 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah (Kalteng) juga akademisi dari Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR), Rawing Rambang, menilai konflik Amerika Serikat, Israel dengan Iran, dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga minyak dunia karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi energi global.
"Minyak dan gas salah satu sumber utamanya berada di Timur Tengah. Sumber produksi minyak dan gas itu berasal dari Qatar, Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi, Iran. Itu sangat berpengaruh dan kebetulan negara-negara ini berkonflik. Demikian juga pupuk berasal dari Rusia yang semua lewat Timur Tengah nanti pengirimannya," ujarnya, Rabu 11 Maret 2026.
Meski demikian, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalteng ini, menyebut hingga saat ini ketersediaan BBM di Kota Palangka Raya masih aman.
Itu artinya eskalasi konflik di Timur Tengah belum mempengaruhi stok BBM. Hal ini sejalan dengan penegasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, bahwa stok minyak sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sementara itu, dari segi pangan, sebelumnya pihak Perum Bulog Kalteng juga menyebut masih terbilang aman, meskipun saat ini terjadi eskalasi konflik geopolitik global.
Situasi geopolitik global yang terjadi belakangan ini, dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan stok pangan nasional yang dikelola oleh Perum Bulog.
Hal ini karena cadangan pangan pemerintah, khususnya beras, masih berada pada tingkat yang aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pihak Perum Bulog Kalteng, memastikan stok beras yang tersimpan di gudang-gudang Bulog tetap terjaga melalui pengadaan dari dalam negeri serta program penyerapan hasil panen petani.
Selain itu, distribusi cadangan beras pemerintah juga terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di pasar.
Eskalasi konflik geopolitik di beberapa kawasan dunia, memang berpotensi memengaruhi perdagangan pangan global, seperti terganggunya rantai pasok atau kenaikan harga komoditas internasional.
Namun, Indonesia dinilai relatif lebih siap karena memiliki cadangan beras pemerintah dan produksi dalam negeri yang masih mencukupi.