Pegiat Blogger Kalteng Sarankan Tanaman Bajakah Segera Di Proteksi

KBRN, Palangkaraya : Sejak siswa dan siswi SMA Negeri 2 Palangkaraya meraih juara dunia di seoul Korea Selatan, lewat penemuan obat kanker payudara dari tanaman bajakah, mendadak sumber daya alam Kalteng jadi buah bibir masyarakat luas, pasalnya selama ini di dunia medis, penyakit kanker belum ada ditemukan obat penyembuhnya. Tanaman bajakah yang merupakan tanaman hasil kekayaan alam milik masyarakat dayak, berhasil menyita perhatian dan viral di media sosial, bahkan sudah terjadi jual beli secara masif terhadap orang yang memerlukan tanaman tersebut, untuk penyembuhan berbagai macam penyakit berbahaya.

Menanggapi hal demikian, salah satu Pegiat Media Sosial atau Blogger Kalteng Yandi Novia, mengusulkan pemerintah Provinsi Kalteng dan Kota Palangkaraya, segera membuat regulasi hukum, untuk melindungi tanaman tersebut dari upaya eksploitasi besar besaran oleh sejumlah pihak, sebab tak dapat dipungkiri, sejak tanaman bajakah terkenal bisa menyembuhkan penyakit kanker, ratusan orang ingin membelinya lewat berbagai cara.

“Kalau hanya masyarakat lokal kalteng yang sekedar ingin memanfaatkan tanaman bajakah dalam jumlah terbatas, apalagi untuk proses kesembuhan penyakit, itu  tidak masalah, namun yang ditakutkan ada perusahaan besar secara masif memanfaatkan tanaman bajakah untuk urusan bisnis atau  dijual,  ini yang perlu diantisipasi,” kata Yandi kepada RRI Sabtu (17/8/2019)

Lebih jauh Yandi mengatakan, keberhasilan tiga peserta didik di kota Palangkaraya menemukan obat kanker patut diberikan apresiasi, bahkan bisa dikatakan,  mereka sudah mengharumkan nama Kalteng ditengah perhatian dunia dan secara nasional akibat musibah Karhutla dan kepindahan Ibukota.

Ke depan diharapkan, muncul kader generasi muda lainnya yang juga berprestasi, baik di bidang sains dan di bidang manapun, mengingat tugas generasi muda di era sekarang bukan lagi melawan penjajah, tapi bagaimana bisa menyalurkan hobi yang dimilik, untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00