Karhutla Ancam Fungsi Ekologis Hutan Kalteng

  • 14 Sep 2026 14:25 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis yang lebih luas daripada sekadar hilangnya habitat satwa. Asap dan kebakaran dapat mengganggu organisme penyerbuk seperti lebah, yang berperan penting dalam reproduksi tumbuhan hutan dan secara tidak langsung memengaruhi ketersediaan sumber pakan bagi satwa seperti orangutan.

Kepala BKSDA Kalteng, Andi menjelaskan, kaburnya lebah akibat asap dan kebakaran dapat mengganggu proses penyerbukan yang menjadi bagian penting dalam regenerasi tumbuhan di hutan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi produksi buah-buahan yang menjadi sumber makanan bagi berbagai satwa, termasuk orangutan.

“Ketika lebah ini kabur maka proses penyerbukan di hutan itu terganggu sehingga buah-buahan enggak ada di hutan,” ujarnya.

Dampak tersebut menunjukkan bahwa kerusakan akibat karhutla tidak selalu berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Berkurangnya tumbuhan yang mampu bereproduksi secara optimal dapat memengaruhi ketersediaan buah dan vegetasi, sementara satwa yang bergantung pada sumber pakan tersebut harus menghadapi tekanan tambahan untuk bertahan hidup dan mencari wilayah baru.

Ancaman paling serius terjadi ketika kebakaran menyebabkan hilangnya habitat dalam skala luas dan berulang. Menurut Andi, kehilangan habitat merupakan faktor utama yang dapat mendorong suatu spesies menuju kepunahan. Satwa yang tidak mampu bergerak cepat untuk menghindari api, terutama yang berada di lantai hutan, juga menghadapi risiko kematian secara langsung.

Di sisi lain, kondisi kabut asap menunjukkan bahwa dampak karhutla juga dirasakan manusia yang berada di sekitar kawasan terdampak. Novi Nugraheni, Koordinator Humas dan Kerja Sama Balai Taman Nasional, mengatakan kualitas udara di wilayah tersebut semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

Masih seperti biasa ya, masih rada sesek. Tadi datang ke sini makin pekat, dan PPM-nya kayaknya lebih banyak. Jadi kondisi asap ini memang semakin terasa,” ujar Novi.

Penanganan karhutla pun tidak hanya mengandalkan petugas kehutanan. Masyarakat turut berperan dengan melaporkan titik api, sementara upaya pemadaman melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, relawan, serta mitra organisasi nonpemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena deteksi dan penanganan api sedini mungkin dapat mengurangi peluang kebakaran meluas ke habitat yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Dengan kekayaan hayati Kalteng yang masih belum sepenuhnya terdata, setiap kehilangan habitat berisiko menghilangkan spesies yang bahkan belum sempat dikenali dan diteliti. Karena itu, penanganan karhutla perlu ditempatkan bukan hanya sebagai upaya mengendalikan bencana, tetapi juga sebagai bagian dari strategi perlindungan keanekaragaman hayati dan keberlanjutan fungsi ekologis hutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....