Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Dorong Empati Masyarakat

  • 10 Sep 2026 22:32 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia diperingati setiap 10 September sebagai momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap isu bunuh diri dan upaya pencegahannya. Peringatan ini mengajak masyarakat, organisasi, dan pemerintah bersama-sama membangun pemahaman bahwa bunuh diri dapat dicegah.

Dilansir dari laman World Health Organization, pada 2026, peringatan tersebut memasuki tahun ketiga sekaligus tahun terakhir dari tema tiga tahunan 2024–2026, yaitu Changing the Narrative on Suicide. Tema tersebut membawa seruan “Start the Conversation” atau memulai percakapan untuk mendorong keterbukaan mengenai isu bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa bunuh diri merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang menyebabkan lebih dari 720 ribu kematian setiap tahun. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, teman, lingkungan kerja, dan komunitas.

Mengubah narasi tentang bunuh diri berarti menantang berbagai mitos yang keliru serta mengurangi stigma terhadap orang yang sedang mengalami tekanan. Percakapan yang terbuka, penuh empati, dan tidak menghakimi dapat membantu menciptakan lingkungan yang membuat seseorang berani menyampaikan kondisi dan mencari pertolongan.

Upaya pencegahan juga membutuhkan perubahan yang lebih luas melalui kebijakan publik dan dukungan dari berbagai lembaga. Pemerintah dan institusi didorong mengembangkan strategi berbasis bukti, memperluas akses terhadap layanan berkualitas, serta memastikan orang yang mengalami krisis mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pertama kali ditetapkan pada 2003 oleh International Association for Suicide Prevention bersama WHO. Sejak itu, setiap 10 September menjadi kesempatan untuk meningkatkan perhatian global sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mencegah bunuh diri.

Peringatan ini pada akhirnya mengingatkan bahwa pencegahan bunuh diri bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat. Dengan membuka ruang percakapan yang aman, mengurangi stigma, dan memperkuat akses terhadap bantuan, masyarakat dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi mereka yang membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....