Menyelamatkan Jalur Migrasi Mamalia Laut sebelum Terlambat

  • 01 Sep 2026 05:21 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya- Di luasnya lautan Indonesia, hidup berbagai jenis mamalia bahari seperti pesut, duyung (dugong), dan paus pembunuh hayati (orca) yang memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekosistem perairan.

Hewan-hewan ini tidak hanya memikat lewat keindahan dan kecerdasannya, tetapi juga menjadi indikator utama kesehatan lingkungan laut Nusantara.

Mamalia bahari dikenal memiliki tingkat kecerdasan dan kehidupan sosial yang sangat kompleks. Berbeda dengan ikan pada umumnya, mereka bernapas menggunakan paru-paru dan melahirkan anak. Untuk bernavigasi serta berburu di perairan yang gelap atau keruh, mamalia laut seperti lumba-lumba dan pesut mengandalkan kemampuan ekolokasi—memancarkan gelombang suara frekuensi tinggi yang memantul kembali untuk memberi gambaran akurat mengenai lingkungan sekitar.

Selain ekolokasi, mamalia bahari memiliki pola migrasi luar biasa. Spesies paus besar, misalnya, menempuh ribuan kilometer melintasi samudra untuk mencari makan di perairan dingin dan berkembang biak di perairan tropis yang lebih hangat. Selama perjalanan panjang ini, keberadaan mereka membantu meratakan distribusi nutrisi di laut melalui kotoran yang kaya akan unsur hara bagi fitoplankton.

Sayangnya, populasi mamalia laut langka kian menyusut akibat akumulasi tekanan aktivitas manusia. Salah satu ancaman terbesar adalah tangkapan sampingan (bycatch) pada jaring nelayan, di mana mamalia yang tersangkut tidak dapat naik ke permukaan untuk mengambil napas hingga akhirnya tenggelam.

Pencemaran limbah anorganik, khususnya sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik, juga kerap tertelan dan meracuni sistem pencernaan mereka. Selain itu, polusi suara dari mesin kapal niaga, eksplorasi industri bawah laut, dan penggunaan sonar militer mengganggu kemampuan navigasi ekolokasi mereka, yang tak jarang memicu fenomena mamalia laut terdampar secara massal.

Tindakan Nyata Melindungi Ekosistem Perairan

Menyelamatkan mamalia bahari langka membutuhkan kolaborasi nyata dari berbagai pihak:

  • Penetapan Kawasan Konservasi Perairan (KKP): Memperluas zona perlindungan laut untuk membatasi aktivitas kapal komersial dan penangkapan ikan di jalur migrasi utama mamalia bahari.
  • Penggunaan Alat Tangkap Ramah Lingkungan: Mendorong nelayan menggunakan teknologi penangkapan ikan yang dilengkapi perangkat penghalau mamalia (pingers agar tidak terjerat jaring.
  • Pengurangan Pencemaran Plastik: Mengelola sampah dari daratan secara ketat guna mencegah masuknya polutan anorganik ke muara dan lautan.
  • Penanganan Cepat Satwa Terdampar: Memperkuat jaringan sukarelawan dan tim tanggap darurat di kawasan pesisir untuk memberikan penanganan medis awal dan pelepasan kembali mamalia yang terdampar.

Memastikan kelestarian mamalia bahari bukan sekadar melindungi satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan seluruh rantai makanan dan kehidupan laut yang menjadi tumpuan masyarakat pesisir.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....