Suhu Tinggi Meningkatkan Risiko Kebakaran Lahan Gambut
- 28 Agt 2026 22:43 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya — Lahan gambut memiliki risiko kebakaran yang tinggi ketika berada dalam kondisi kering dan terpapar suhu lingkungan yang panas. Gambut tersusun atas bahan organik, terutama sisa-sisa tumbuhan, yang terakumulasi dalam waktu lama. Saat kandungan airnya masih tinggi, gambut cenderung sulit terbakar. Sebaliknya, kondisi panas dan kering dapat menurunkan kadar air sehingga bahan organik di dalam gambut menjadi lebih mudah terbakar.
Panas matahari pada dasarnya tidak secara langsung membakar lahan gambut seperti api dari pembakaran terbuka. Namun, suhu lingkungan yang tinggi dapat meningkatkan suhu gambut sekaligus mempercepat proses pengeringan. Dalam kondisi tertentu, gambut yang telah kering juga dapat mengalami self-heating atau pemanasan sendiri. Proses ini terjadi ketika panas yang dihasilkan dari berbagai reaksi di dalam bahan organik terakumulasi dan tidak cukup cepat dilepaskan ke lingkungan.
Penelitian Yuan, Restuccia, dan Rein yang diterbitkan dalam International Journal of Wildland Fire pada 2021 menunjukkan bahwa gambut merupakan material organik berpori yang memiliki potensi mengalami penyalaan akibat self-heating ignition. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan model yang memperhitungkan proses pengeringan, reaksi biologis, perpindahan panas, dan oksidasi untuk mempelajari kemungkinan gambut mengalami penyalaan spontan tanpa sumber api eksternal secara langsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lapisan gambut dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, penyalaan akibat self-heating dapat terjadi ketika suhu lingkungan rata-rata berada di atas 40 derajat Celsius dalam kondisi yang mendukung. Namun, temuan ini tidak berarti setiap lahan gambut akan terbakar ketika suhu mencapai 40 derajat Celsius. Potensi penyalaan tetap dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kadar air, kedalaman lapisan gambut, kondisi termal, serta kemampuan panas untuk keluar dari material.
Kondisi gambut yang kering juga menyebabkan kebakaran dapat berlangsung dengan mekanisme berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi di permukaan. Gambut dapat mengalami pembakaran membara atau smouldering, yakni pembakaran yang berlangsung secara perlahan dan dapat terjadi tanpa nyala api yang terlihat. Mekanisme tersebut memungkinkan panas dan bara merambat di dalam lapisan gambut. Akibatnya, kebakaran dapat tetap berlangsung di bawah permukaan meskipun api yang terlihat dari permukaan telah padam.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan. Padamnya api di permukaan belum tentu menandakan seluruh bagian gambut telah terbakar atau kehilangan panas. Bara dapat tetap bertahan di bawah permukaan dan kembali berkembang ketika memperoleh oksigen serta kondisi lingkungan yang mendukung.
Karena itu, penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya dengan memastikan api di permukaan telah padam. Bagian gambut yang terbakar di bawah permukaan juga perlu ditangani hingga benar-benar kehilangan panas dan tidak lagi memiliki bara yang berpotensi memicu pembakaran kembali.
Dengan demikian, panas matahari lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kebakaran gambut, bukan sebagai penyebab tunggal yang secara langsung membakar gambut. Suhu yang tinggi dapat mempercepat pengeringan dan, dalam kondisi tertentu, mendukung proses self-heating yang berpotensi menyebabkan penyalaan.
Penelitian Yuan, Restuccia, dan Rein (2021) memperkuat pemahaman ilmiah bahwa gambut memiliki potensi mengalami penyalaan spontan melalui proses pemanasan sendiri. Meski demikian, penyalaan tidak ditentukan oleh suhu semata, melainkan merupakan hasil interaksi antara suhu, kadar air, karakteristik lapisan gambut, perpindahan panas, serta kondisi lingkungan lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....