Ancaman Ganda Kemarau, Ekosistem Gambut Rusak dan Bencana Asap Mengintai

  • 30 Jul 2026 13:04 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Fenomena kemarau panjang kembali memicu kekhawatiran besar terhadap kerusakan lahan gambut. Mengeringnya lapisan gambut secara masif tidak hanya memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hebat, tetapi juga mengancam kelestarian keanekaragaman hayati lokal yang bergantung pada ekosistem unik tersebut.

Lahan gambut pada dasarnya berfungsi seperti spons raksasa yang menyerap dan menyimpan air. Namun, saat musim kemarau ekstrem tiba, tinggi muka air tanah turun Drastis. Kondisi ini menyebabkan lapisan material organik tebal di bawah permukaan menjadi sangat kering dan amat mudah terbakar.

Kebakaran pada lahan gambut jauh lebih berbahaya dibanding tanah mineral biasa. Api di lahan gambut dapat menjalar di bawah permukaan tanah (underground fire) tanpa terlihat, menghasilkan asap pekat yang sangat tebal, serta sangat sulit dipadamkan meskipun dari udara (water bombing).

Kerusakan ekosistem gambut membawa dampak berantai yang merugikan kehidupan:

  • Ancaman Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Gambut merupakan habitat alami bagi berbagai flora dan fauna endemik. Kebakaran dan kekeringan memusnahkan vegetasi khas seperti kayu jelutong dan kantong semar, serta memaksa satwa liar melarikan diri dari habitatnya.
  • Pelepasan Emisi Karbon Masif: Lahan gambut menyimpan cadangan karbon yang sangat besar. Ketika terbakar, karbon tersebut terlepas ke udara dalam jumlah raksasa, mempercepat perubahan iklim dan memicu polusi udara hebat.
  • Kerusakan Fungsi Hidrologi: Gambut yang rusak dan terbakar kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga memicu krisis air bersih di musim kemarau dan potensi banjir bandang saat musim hujan tiba.

Menanggapi ancaman serius ini, pemerintah daerah bersama aparat keamanan dan instansi terkait mempertegas imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat, kelompok tani, maupun pihak korporasi untuk sama sekali tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar (slash and burn).

Satu percikan api kecil di atas lahan gambut yang kering dapat meluas menjadi bencana karhutla berhektar-hektar dalam hitungan jam. Masyarakat diimbau untuk beralih ke metode Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), seperti memanfaatkan tebasan vegetasi menjadi kompos atau mulch guna menjaga kesuburan tanah secara alami.

Penegakan hukum tegas juga akan diberlakukan bagi siapa saja yang terbukti sengaja maupun lalai menyulut api di area rawan karhutla. Menjaga kebasahan dan kelestarian ekosistem gambut adalah tanggung jawab bersama demi mencegah bencana asap dan menyelamatkan lingkungan bagi generasi mendatang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....