Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan
- 11 Agt 2026 14:48 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pemerintah Kota Palangkaraya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Balai Taman Nasional Sebangau dan Borneo Nature Foundation (BNF) memperkuat sinergi multipihak guna menekan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Penanganan berbasis pencegahan dini dan pengikutsertaan masyarakat menjadi fokus utama mengingat tingginya risiko kebakaran di ekosistem gambut akibat cuaca ekstrem tahun ini.
Data Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat telah terjadi 933 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 7.674 hektar serta terpantau ribuan titik panas (hotspot). Luasan lahan yang terbakar tersebut menegaskan pentingnya respons cepat dari seluruh pihak agar dampak asap tidak semakin memperburuk kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Kota Palangkaraya, Alvi Isnawati, mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan titik api sekecil apa pun demi mempercepat proses pemadaman di lapangan. Pihaknya telah menyiagakan Tim Serbu Api di 30 kelurahan serta membuka akses aduan darurat agar laporan warga bisa langsung ditindaklanjuti.
"Pencegahan di tahap prabencana jauh lebih ekonomis dan efektif dibandingkan penanganan saat api sudah meluas. Masyarakat yang melihat asap atau titik api diharapkan segera melapor ke instansi terdekat atau memanfaatkan Call Center 112," kata Alvi Isnawati dalam dialog Green Radio di Pro 1 RRI Palangkaraya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Di sisi lain, karakter lahan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah (subsurface fire) menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Api yang terlihat sudah padam di permukaan sering kali dapat menyala kembali akibat hembusan angin jika bagian dalam tanah gambut belum sepenuhnya dingin.
Koordinator Integrated Fire Management BNF, Astria Yanti, menjelaskan bahwa penanganan api di lahan gambut memerlukan metode khusus agar pemadaman benar-benar tuntas hingga ke dalam tanah. Pemadaman konvensional dengan menyiram air di permukaan sering kali tidak cukup untuk memadamkan bara yang tersembunyi di bawah lapisan tanah.
"Di area gambut, kalau cuma disiram air biasa dari atas, bawahnya itu masih panas dan bisa bangun lagi apinya. Makanya kami menggunakan teknik suntik gambut dan busa khusus untuk mengunci oksigen di bawah tanah agar air cepat meresap," ujar Astria Yanti.
Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan warga sekitar, upaya pencegahan diharapkan dapat meminimalisir potensi kebakaran baru. Selain memperketat patroli, edukasi mengenai pemanfaatan lahan gambut tanpa bakar juga terus digencarkan agar bentang alam Kalimantan Tengah tetap terjaga dan bebas asap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....