BMKG Prediksi Puncak Kemarau Kalteng pada Agustus-September

  • 22 Jul 2026 22:00 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Musim Kemarau di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah termasuk Kota Palangka Raya sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan kekeringan. Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani, memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September, dengan suhu udara maksimum masih dalam kisaran normal Juli, yakni 33 hingga 35 derajat Celsius dan berpotensi mencapai 36 derajat Celsius.

BMKG mengingatkan, meski sebagian wilayah masih berpotensi berawan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di wilayah Kalteng bagian utara, seperti Murung Raya, Barito Utara, dan Kapuas bagian utara. Sementara wilayah lainnya perlu mewaspadai hujan lokal berdurasi singkat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Berkurangnya curah hujan juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. "Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga kesehatan dan kebutuhan cairan tubuh, serta mengurangi aktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama,” ucapnya, Rabu, 22 Juli 2026.

Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya saat ini, terus menjadi perhatian pemerintah daerah seiring meningkatnya potensi kebakaran pada musim kemarau. Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, hingga saat ini telah terjadi 66 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 21,37 hektare.

Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian tertinggi, disusul Kecamatan Pahandut, Sebangau, dan Bukit Batu. Sementara Kecamatan Rakumpit masih tercatat nihil kejadian.

BPBD Palangka Raya terus memperkuat penanganan dengan melibatkan relawan dan BPBD Provinsi Kalimantan Tengah. "Sejak 1 Juni 2026, tercatat puluhan kejadian karhutla dengan luasan lahan terbakar mencapai lebih dari 21 hektare," katanya.

Heri menjelaskan, upaya pemadaman dilakukan secepat mungkin setelah menerima laporan untuk mencegah api meluas. Namun, petugas masih menghadapi kendala karena sejumlah titik api berada jauh dari akses jalan dan sumber air yang mulai mengering.

Selain pemadaman darat, dukungan helikopter juga telah dikerahkan di sejumlah wilayah Palangka Raya, dengan penggunaannya disesuaikan dengan luas dan tingkat kesulitan kebakaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....