Keunikan Jambu Mete Menjadikan Tanaman Ini Disebut Jambu Monyet
- 26 Jun 2026 19:52 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di balik popularitas kacang mete sebagai camilan premium, masyarakat Indonesia lebih mengenal pohon penghasilnya dengan sebutan unik, yaitu "jambu monyet." Penamaan eksentrik pada tanaman bernama Latin Anacardium occidentale ini merujuk pada bentuk buah sejati berwarna abu-abu di bagian bawah yang melengkung menyerupai anatomi kepala atau wajah monyet yang tengah bergelantungan.
Namun, penggunaan kata "jambu" pada tanaman asal Brasil Tenggara ini sebenarnya keliru secara botani. Data Integrated Taxonomic Information System (ITIS) menegaskan bahwa jambu monyet tidak masuk dalam keluarga jambu-jambuan (Myrtaceae), melainkan keluarga Anacardiaceae. Hal ini membuat jambu monyet justru berkerabat dekat dengan mangga dan gandaria, bukan dengan jambu air atau jambu biji.
Struktur tanaman ini juga menyimpan keunikan berupa "buah semu" dan "buah sejati." Bagian besar menggelembung berwarna merah atau kuning yang berdaging lunak sebenarnya hanyalah tangkai bunga yang membesar akibat proses pembuahan. Sementara itu, buah sejati yang sebenarnya adalah bagian kecil berbentuk ginjal di ujung bawah yang melindungi biji mete di dalamnya.
Proses pemanenan biji mete pun tidak boleh dilakukan sembarangan karena adanya perlindungan kimiawi alami yang berbahaya pada cangkangnya. Kulit luar buah sejati tersebut mengandung Cashew Nut Shell Liquid (CNSL), sebuah minyak pekat yang kaya akan senyawa korosif berupa asam anakardat dan kardol. Cairan ini dapat menyebabkan iritasi parah dan luka bakar jika terkena kulit, sehingga memerlukan proses pemanggangan khusus sebelum aman dikupas.
Di dunia kuliner, produk olahan tanaman ini juga mengalami salah kaprah karena secara universal disebut sebagai "kacang" (cashew nut). Secara ilmu botani, mete murni merupakan biji pohon dan bukan bagian dari keluarga kacang-kacangan (Fabaceae). Penyebutan kacang ini murni karena tekstur gurihnya yang mirip saat diolah dalam dunia gastronomi.
Hingga saat ini, tanaman jambu monyet masih mengalami paradoks nilai ekonomi yang tinggi di pasar komoditas. Buah semunya yang kaya vitamin C sering kali terbuang atau hanya menjadi pakan ternak karena rasanya yang cenderung sepat akibat kandungan tanin yang tinggi. Sebaliknya, biji metenya terus diburu sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi karena kaya akan asam lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan jantung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....