Self-Reward, Apresiasi Diri Berubah Menjadi Pemborosan
- 14 Jun 2026 18:54 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di era modern seperti sekarang, self-reward atau mengapresiasi diri sendiri telah menjadi tren gaya hidup yang sangat populer, terutama di kalangan generasi muda yang aktif di dunia kerja dan media sosial.
Secara psikologis, memberikan penghargaan kecil setelah berhasil menyelesaikan tugas berat atau mencapai target tertentu adalah hal yang valid dan sehat.
Tindakan ini berfungsi sebagai bentuk afirmasi positif yang dapat memicu pelepasan hormon dopamin, sehingga motivasi kerja tetap terjaga dan stresor harian dapat diredam sejenak.
| Baca juga: Obesitas Memicu Risiko Penyakit Kronis |
Namun, batasan antara menjaga kesehatan mental (mental health) dan pemuasan impulsif kini kian mengabur ketika self-reward dilakukan tanpa kontrol dan kesadaran diri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada bagaimana industri pemasaran global memanfaatkan narasi "kepedulian pada diri sendiri" (self-care) secara masif untuk mendorong perilaku konsumtif.
Belanja kosmetik mahal, liburan di luar anggaran, atau kopi premium harian yang awalnya dianggap sebagai pelipur lara, perlahan bergeser menjadi sebuah kebiasaan otomatis setiap kali seseorang menghadapi tekanan sekecil apa pun.
Ketika setiap rasa penat, bosan, atau kecewa langsung direspons dengan transaksi finansial, di situlah self-reward telah kehilangan esensi edukatifnya dan berubah menjadi mekanisme pelarian yang tidak sehat.
Dampak buruk dari pergeseran ini sejatinya terjadi secara bertahap namun fatal, di mana pemborosan yang tidak terkendali justru akan memicu masalah kesehatan mental yang baru dan lebih berat. Bayangkan kepuasan sesaat setelah berbelanja barang mewah yang hanya bertahan beberapa jam, langsung diikuti oleh kecemasan mendalam (financial anxiety) saat melihat sisa saldo rekening di akhir bulan atau tumpukan tagihan kartu kredit yang membengkak.
Alih-alih meredakan stres, siklus konsumtif ini justru menjebak seseorang dalam lingkaran setan: stres karena kerja, belanja untuk meredakan stres, lalu berakhir stres lagi karena tidak punya tabungan.
Penjelasan logis ini membuktikan bahwa alibi menjaga kesehatan mental sering kali hanya menjadi topeng untuk membenarkan ketidakmampuan kita dalam mengelola regulasi emosi dan keuangan.
Fenomena ini mencapai puncaknya setiap kali momentum gajian tiba atau saat platform e-commerce menggelar festival belanja tanggal kembar di sepanjang tahun, di mana tekanan sosial dari lingkaran pertemanan digital ikut memperparah keadaan.
Paparan gaya hidup estetik di media sosial menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dan ketenangan jiwa hanya bisa diraih melalui materi yang dapat dipamerkan. Akibat akumulasi perilaku manusia yang rapuh terhadap gengsi ini, banyak pekerja muda yang mengorbankan dana darurat dan investasi masa depan demi mengejar validasi semu.
Ketika kesadaran finansial luntur demi ego sesaat, maka anggaran yang seharusnya menjadi jaring pengaman hidup justru dikuras habis untuk mendanai gaya hidup yang melampaui kemampuan riil.
Lantas, bagaimana kita bisa memutus mata rantai pemborosan berkedok kesehatan mental ini tanpa harus kehilangan momen membahagiakan diri? Kuncinya ada pada redefinisi konsep self-reward itu sendiri dan modernisasi cara kita mengelola stres tanpa ketergantungan pada uang.
Langkah pencegahan harus dimulai dengan menetapkan batas anggaran khusus yang kaku, misalnya maksimal 5% hingga 10% dari pendapatan bulanan, serta menerapkan aturan jeda 24 jam sebelum memutuskan membeli barang non-primer untuk meredam sifat impulsif.
Selain itu, kita perlu melatih diri bahwa apresiasi terbaik untuk jiwa yang lelah tidak selalu berupa materi; tidur berkualitas yang cukup, jalan kaki santai di taman, atau meluangkan waktu tanpa gawai adalah bentuk self-reward gratis yang jauh lebih efektif untuk memulihkan kesehatan mental sejati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....