Bijak Bermedia Sosial, Kunci agar Tidak Terjebak Scroll tanpa Batas
- 06 Jun 2026 21:30 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Selain memudahkan komunikasi dan akses informasi, media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, hingga mengembangkan diri.
Namun di balik manfaat tersebut, penggunaan yang berlebihan dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari menurunnya produktivitas hingga gangguan kesehatan mental. Fenomena doom scrolling atau kebiasaan menelusuri media sosial tanpa henti semakin sering terjadi.
Banyak orang yang awalnya hanya ingin melihat notifikasi atau mencari informasi singkat, namun akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Kondisi ini membuat aktivitas penting lainnya kerap terabaikan.
Broadcaster dan Content Producer, Jadmiko A. Wicaksono, saat Dialog Zona Edukasi di Pro 1 RRI Palangka Raya, mengatakan media sosial mulai menjadi masalah ketika perhatian seseorang lebih banyak tercurah pada dunia digital dibanding kehidupan nyata. Ia menilai banyak pengguna yang akhirnya kesulitan fokus, mudah cemas, hingga terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain karena terlalu sering mengonsumsi konten di media sosial.
"Manusia-manusia sekarang, generasi-generasi sekarang yang sudah terbiasa menggunakan gawai ponsel itu punya kebutuhan dari device tersebut hingga muncul problem, sulit fokus, mudah cemas, lalu suka compare membandingkan diri dengan orang lain dengan sosok yang tampil di sana, lalu takut tertinggal tren atau FOMO. Akhirnya bukan cuma menemukan informasi, tetapi juga kelebihan informasi yang seharusnya difilter," ucapnya, Kamis, 4 Juni 2026.
Jadmiko juga mengingatkan pentingnya pengelolaan notifikasi dan waktu penggunaan gawai. Menurutnya, masyarakat perlu membangun kebiasaan yang sehat agar teknologi menjadi alat yang membantu produktivitas, bukan justru mengendalikan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala, menyoroti dampak penggunaan media sosial berlebihan terhadap anak dan remaja. Ia menyebut kecanduan gawai dapat mengurangi waktu belajar, memicu kecemasan, serta membuat anak kesulitan berinteraksi secara sehat di lingkungan sosialnya.
"Ketika mereka diberhentikan kemudian mereka cemas, kemudian rasa marah, nah itu sudah tanda-tanda sebenarnya. Apalagi kalau tidak pegang handphone, bahkan ada yang sampai depresi. Itu menunjukkan bahwa kecanduan gadget sudah pada tahap yang berbahaya dan perlu mendapat perhatian," katanya.
Widiya menambahkan bahwa literasi digital menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Masyarakat dari berbagai kelompok usia perlu dibiasakan untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya serta mampu memilah konten yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Kedua narasumber sepakat bahwa media sosial bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Yang terpenting adalah bagaimana pengguna mampu mengendalikan penggunaan teknologi secara bijak agar lebih banyak dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, membangun relasi positif, serta menjaga kesehatan mental. (Hesa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....