Basarnas dan BPBD Perkuat Mitigasi Bencana di Palangka Raya

  • 31 Mar 2026 18:07 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya memperkuat sinergi dalam penanganan bencana dan edukasi keselamatan bagi masyarakat di wilayah bantaran sungai. Langkah ini diambil untuk menekan angka kecelakaan air sekaligus memberikan kepastian prosedur operasi penyelamatan di lapangan.

Dalam dialog "Kentongan" di RRI Palangka Raya pada Selasa, 31 Maret 2026. Kasi OPS Basarnas Palangka Raya, Mulana Abdilah, S.H., menegaskan bahwa prosedur pencarian korban memiliki batas waktu operasional selama tujuh hari sesuai standar internasional. Ketetapan ini menjadi acuan utama tim dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

“Untuk dari kami itu pencarian maksimal 7 hari. Kalaupun ada permintaan dari pihak keluarga untuk diperpanjang, itu bisa kita lakukan selama 1 hingga 2 hari, asalkan ada evaluasi tanda-tanda korban ditemukan,” ujar Mulana Abdilah.

Ia menambahkan, apabila dalam masa perpanjangan tersebut korban tetap tidak ditemukan, maka status korban akan diubah secara resmi. Mulana menjelaskan bahwa setelah melewati batas waktu tersebut, korban yang sebelumnya dalam status pencarian akan dimasukkan ke dalam kategori hilang.

Sementara itu, upaya pencegahan bencana terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangkaraya melalui program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). Hal ini disampaikan oleh Heri Fauzi dalam kesempatan yang sama.

Dijelaskan bahwa program tersebut telah dijalankan dengan menyasar masyarakat luas, termasuk kelompok masyarakat dan pelajar, khususnya yang berada di wilayah bantaran sungai. Edukasi difokuskan pada peningkatan kewaspadaan saat terjadi kenaikan debit air.

“Kami melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama yang berada di bantaran sungai, agar lebih berhati-hati saat kondisi air naik, termasuk memperhatikan risiko listrik,” kata Heri.

Selain itu, Heri menilai bahwa keberhasilan edukasi sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat mampu memahami dan menerapkan informasi yang disampaikan. Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dalam melindungi diri, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita dan lansia saat terjadi kondisi darurat. Upaya sosialisasi disebut akan terus digencarkan guna meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....