Menjaga Napas Rimba, Misi Kemanusiaan Nyaru Menteng

  • 29 Mar 2026 10:30 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di balik rimbunnya pepohonan Jalan Tjilik Riwut KM 28, sebuah perjuangan sunyi namun krusial tengah berlangsung demi keberlangsungan hidup "Sang Khalifah Hutan". Nyaru Menteng, yang dikelola oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) bekerja sama dengan BKSDA Kalimantan Tengah, bukan sekadar tempat penampungan, melainkan sebuah benteng pertahanan terakhir bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Di sini, ratusan individu yang kehilangan induk dan habitatnya akibat konflik serta alih fungsi lahan sedang dipersiapkan untuk kembali menjadi penguasa rimba sejati.

Perjalanan rehabilitasi di Nyaru Menteng dimulai dari tahap "Sekolah Hutan", di mana bayi-bayi orangutan belajar keterampilan dasar yang seharusnya diajarkan oleh induk mereka. Mengingat orangutan memiliki masa ketergantungan yang panjang, mereka dilatih oleh para pengasuh (babysitters) untuk mengenali jenis pakan alami, membangun sarang di atas tajuk pohon, hingga mewaspadai ancaman predator. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun demi memastikan bahwa saat dilepasliarkan nanti, insting liar mereka telah pulih sepenuhnya untuk bertahan hidup tanpa bantuan manusia.

Keberhasilan konservasi ini tidak lepas dari sinergi kuat antara lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah. Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, saat meninjau kawasan ini menegaskan komitmen negara dalam melindungi satwa ikonik tersebut. "Apa yang dilakukan oleh BOSF dan berbagai pihak lainnya sungguh luar biasa. Alam dan hutan harus kita jaga agar lestari, sehingga satwa liar dapat hidup normal di rimba raya yang merupakan rumah mereka," ujar Raja Juli Antoni dalam kunjungannya ke Nyaru Menteng baru-baru ini.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menekankan bahwa pelestarian orangutan adalah cerminan dari martabat menjaga kekayaan alam daerah. Saat memimpin kegiatan pelepasliaran orangutan ke-45 pada pertengahan 2025 lalu, ia menyatakan bahwa hutan Kalteng seluas 15,3 juta hektare memiliki peran vital sebagai penyangga kehidupan. "Pelepasliaran ini bukan semata-mata soal mengembalikan satwa, melainkan mencerminkan komitmen bersama dalam melestarikan warisan alam Kalteng demi masa depan berkelanjutan," tegasnya.

Mengapa konservasi ini begitu mendesak? Karena orangutan dikenal sebagai keystone species atau spesies kunci yang berperan sebagai penyebar biji di hutan hujan tropis. Tanpa kehadiran mereka, regenerasi vegetasi hutan akan terhambat, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan kualitas udara dan tata air yang dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, Nyaru Menteng juga membuka pintu bagi edukasi publik melalui kawasan Arboretum, agar masyarakat luas memahami bahwa menyelamatkan orangutan berarti menyelamatkan paru-paru dunia.

Meskipun tantangan seperti ancaman kebakaran hutan dan penyusutan habitat masih membayangi, optimisme tetap tumbuh di antara para konservasionis di Bukit Batu. Hingga awal 2026, ratusan orangutan telah berhasil dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran seperti Pulau Bangamat dan Pulau Salat sebagai tahap akhir sebelum menuju hutan liar. Teknologi seperti penggunaan helikopter kini sering dikerahkan untuk memangkas waktu tempuh pengangkutan kandang ke pedalaman hutan lindung, guna meminimalkan stres pada satwa.

Menapaki jalur setapak di Nyaru Menteng mengingatkan kita bahwa harmoni antara pembangunan dan alam adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Dukungan dari masyarakat, baik melalui donasi maupun kampanye kesadaran, menjadi asupan semangat bagi para garda depan konservasi.

Mari terus mendukung upaya ini, agar kelak anak cucu kita tidak hanya mengenal keperkasaan orangutan melalui buku sejarah, melainkan dapat melihat mereka berayun bebas di bawah kanopi hutan Kalimantan yang hijau. (Immanuel Putri Lintang Wisesa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....