Memaknai Manis Iman dalam Islam

  • 03 Agt 2026 06:03 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Manisnya iman tidak hanya dirasakan melalui keyakinan di dalam hati, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Hal tersebut disampaikan H.M. Ansori, S.Sos.I., M.Pd dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palangka Raya, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurut Ansori, salah satu ciri manisnya iman adalah mencintai sesama semata-mata karena Allah. Ia mencontohkan dalam kehidupan rumah tangga, niat menjadi fondasi utama sebuah pernikahan.

Pernikahan, katanya, hendaknya diniatkan untuk menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunah Rasulullah, bukan karena kepentingan duniawi seperti harta atau status. "Segala sesuatu bergantung kepada niat. Jika niatnya baik, maka insyaallah hasilnya juga baik," ujarnya.

Ia menambahkan, hubungan antarmanusia yang dibangun karena Allah akan melahirkan keikhlasan, baik dalam pertemanan maupun kehidupan berkeluarga. Pertemuan, kebersamaan, hingga perpisahan seharusnya dilandasi keimanan, bukan semata-mata kepentingan pribadi atau keuntungan dunia.

Ansori juga menjelaskan bahwa manisnya iman ditandai dengan rasa takut kembali kepada kekufuran dan keburukan, sebagaimana seseorang takut dilemparkan ke dalam api neraka. Menurutnya, seorang muslim harus memiliki tekad untuk meninggalkan dosa, menjauhi larangan Allah, serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan agar memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

Lebih lanjut, ia mengatakan dampak manisnya iman akan tampak dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mukmin akan merasa senang melaksanakan ibadah, memperbanyak salat, zikir, dan amal saleh dengan penuh keikhlasan, sekaligus taat kepada Allah dan Rasul-Nya. "Ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, orang yang merasakan manisnya iman akan tetap tabah karena meyakini bahwa semua itu merupakan takdir Allah," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....