Memaknai Semangat Baru di Tahun Baru Hijriah
- 20 Jun 2026 07:59 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya -Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri dan menghadirkan semangat perubahan dalam kehidupan. Hal tersebut disampaikan Muhammad Mahdiani Alby dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Sabtu, 20 Juni 2026, yang mengajak masyarakat memaknai hijrah bukan hanya sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan hati, pikiran, dan perilaku menuju kebaikan.
Muhammad Mahdiani Alby menjelaskan, makna hijrah ditegaskan dalam hadis shahih riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah .“Hijrah kita hari ini adalah hijrah yang bersifat maknawi, yaitu hijrah hati, hijrah pikiran, dan hijrah dari perbuatan yang tidak baik menuju kehidupan yang lebih diridai Allah,” ujarnya.
Ia menyampaikan, pergantian tahun baru harus berjalan seiring dengan lahirnya semangat baru dalam diri setiap manusia. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang dapat dibangun untuk mewujudkan semangat baru di Tahun Baru Hijriah, yakni memperbaiki kualitas ibadah, mengubah kebiasaan buruk, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Pilar pertama adalah semangat memperbaiki kualitas ibadah melalui evaluasi diri. Tahun baru menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir. “Mari bertanya kepada diri sendiri, bagaimana salat lima waktu kita, apakah masih sering menunda waktu salat, apakah Al Quran di rumah masih hanya menjadi pajangan atau sudah menjadi bacaan yang kita dekatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Pilar kedua adalah semangat berhijrah dari kebiasaan yang kurang baik menuju perilaku positif. Muhammad Mahdiani Alby mengutip pesan dalam Al-Qur'an bahwa perubahan keadaan manusia dimulai dari kemauan manusia itu sendiri untuk berubah. Ia mengajak masyarakat mengganti keluhan dengan rasa syukur, mengganti perkataan yang menyakiti dengan kalimat yang menyejukkan, serta meninggalkan rasa malas untuk menjadi pribadi yang lebih produktif.
Sementara pilar terakhir adalah menghadirkan kebermanfaatan bagi orang lain. Semangat baru tidak cukup hanya berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam kesalehan sosial. “Jadilah pribadi yang amanah di tempat kerja, penuh kasih sayang dalam keluarga, serta menjadi tetangga yang peduli dan membantu sesama. Ketika kita membawa semangat untuk menebar kebaikan, maka lingkungan sekitar pun akan berubah menjadi lebih positif,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....