Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

  • 02 Jun 2026 16:28 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Namun, di balik berbagai kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama ketika seseorang terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa, 2 Juni 2026, Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E., menjelaskan bahwa banyak orang merasa gelisah, minder, bahkan gagal setelah melihat pencapaian orang lain di media sosial. “Kita sebenarnya sedang menjalani hidup kita sendiri, tetapi justru lelah karena terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial,” ujarnya.

Menurut Ahmad, media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, seperti kesuksesan, kebahagiaan, rumah yang bagus, atau pencapaian tertentu. Padahal, di balik semua itu terdapat perjuangan, kesulitan, dan proses panjang yang tidak terlihat oleh publik. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam perbandingan yang dapat merusak kesehatan mental.

Ia menegaskan bahwa ketenangan hati tidak ditentukan oleh jumlah tanda suka, komentar, atau pujian di media sosial. “Allah tidak mengatakan hati menjadi tenang karena banyak like atau pujian. Hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Karena itu, menjaga kesehatan mental di era digital bukan hanya dengan mengurangi waktu layar, tetapi juga mengembalikan orientasi hidup kepada Allah,” katanya.

Ahmad juga mengingatkan pentingnya etika dalam bermedia sosial. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru berkomentar, menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, maupun membuat unggahan saat sedang marah. Selain itu, umat Islam diajarkan untuk tidak berputus asa ketika menghadapi kesedihan dan kesulitan karena rahmat Allah selalu terbuka dan setiap kesulitan akan disertai kemudahan.

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk membatasi penggunaan media sosial agar tidak mengganggu ibadah, keluarga, pekerjaan, maupun waktu istirahat. “Bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya, tetapi kita perlu menempatkannya secara proporsional. Ada waktu untuk keluarga, ibadah, bekerja, membaca, dan beristirahat. Jangan sampai dunia digital mengambil seluruh ruang dalam hidup kita,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....