Sifat Iri yang Diperbolehkan dalam Islam

  • 20 Apr 2026 05:46 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Senin, 20 April 2026, narasumber Muhammad Ansori, S.Sos.I., M.Pd menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, terdapat bentuk iri yang diperbolehkan. Sifat iri ini bisa mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan tanpa disertai niat buruk.

Menurutnya, iri yang dibenarkan adalah ketika seseorang melihat orang lain yang memiliki kelebihan, baik dalam harta maupun ilmu, lalu timbul keinginan untuk meneladani kebaikan tersebut. Iri yang diperbolehkan adalah ketika kita melihat orang memiliki harta yang banyak, tetapi tidak sombong, tidak pamer.

"Ia justru memanfaatkan harta yang telah diberikan Allah untuk kebaikan dan dakwah, serta membantu sesama,” ujarnya. Ia menjelaskan, dalam kehidupan nyata terdapat berbagai macam karakter orang kaya.

Ada yang dermawan dan gemar berbagi kepada mereka yang membutuhkan, namun ada pula yang justru sombong dan tidak peduli terhadap sesama. Padahal, dalam setiap harta yang dimiliki seseorang, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

“Dalam Islam ada kewajiban sosial seperti zakat sesuai haul dan nisab, juga anjuran untuk bersedekah. Maka iri yang diperbolehkan adalah ketika melihat seseorang menggunakan hartanya bukan untuk berfoya-foya, tetapi untuk kepentingan kebaikan,” ucapnya.

Selain itu, iri yang dibolehkan juga berkaitan dengan ilmu. Ia menegaskan bahwa seseorang boleh merasa iri kepada orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan rendah hati.

“Iri yang diperbolehkan juga kepada orang berilmu yang tidak sombong. Ilmu yang dimiliki diamalkan dan dibagikan. Karena ilmu itu jika diamalkan tidak akan berkurang, justru semakin berkembang,” ujarnya. Ia mengibaratkan ilmu seperti pohon yang rimbun. Jika tidak berbuah, maka tidak memberi manfaat.

Oleh karena itu, setiap orang yang memiliki ilmu memiliki kewajiban untuk mengamalkan dan menyebarkannya. Dengan demikian, iri dalam Islam bukanlah perasaan negatif semata, melainkan dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas diri, selama diarahkan pada hal-hal yang positif dan bernilai ibadah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....