Makna Hidup Bermegahan dalam Islam

  • 12 Apr 2026 05:44 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Minggu, 12 April 2026, penceramah Mujibah, S.Ag mengingatkan umat Islam agar mewaspadai sikap bermegah-megahan dalam kehidupan dunia yang dapat melalaikan dari tujuan akhirat.Menurut Mujibah, kecenderungan manusia untuk berbangga-bangga bukanlah fenomena baru, bahkan sudah ada jauh sebelum era media sosial.

“Ini sebuah jebakan yang halus, yang jauh lebih tua dari media sosial kita. Berbangga-bangga dalam memperbanyak dunia telah melalaikan manusia dari tujuan hidupnya,” ujarnya.

Ia mengutip peringatan Al-Qur’an bahwa sikap bermegah-megahan dapat membuat manusia lalai hingga datangnya kematian. Seluruh energi dihabiskan untuk perlombaan duniawi, sementara kematian yang seharusnya menjadi pengingat utama justru terabaikan.

Mengacu pada penafsiran ulama seperti Ibnu Katsir, Mujibah menjelaskan bahwa bermegah-megahan mencakup kebanggaan atas banyaknya anak, harta, maupun pengikut. Dalam konteks kekinian, hal itu tampak dalam upaya mencari prestise melalui tampilan kehidupan di media sosial, jumlah pengikut, hingga gaya hidup yang dipamerkan.

“Intinya, kita sering mencari validasi. Seolah-olah dengan banyak harta, jabatan, atau pengaruh, seseorang pasti bahagia. Padahal kenyataannya tidak demikian,” katanya.

Ia menegaskan, Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras bahwa setiap manusia kelak akan mengetahui akibat dari perbuatannya. Pengetahuan tersebut bukan sekadar informasi, melainkan kesadaran hakiki tentang pertanggungjawaban di akhirat, termasuk ancaman siksa neraka.

Menurut Mujibah, pada akhirnya seluruh manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat yang diberikan Allah . “Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa dan bagaimana kita menggunakannya,” ucapnya.

Ia menambahkan, kekayaan bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi, melainkan ujian yang harus dikelola dengan bijak. Harta yang digunakan untuk kebaikan akan membawa keberkahan, sementara yang disalahgunakan dapat menjadi beban di akhirat.

Mujibah juga mengingatkan pentingnya mengingat kematian sebagai pengendali diri. Setiap godaan untuk pamer atau iri hati seharusnya diimbangi dengan kesadaran bahwa semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, bahkan hal-hal kecil seperti penggunaan waktu, harta, dan fasilitas hidup.

Lebih lanjut, ia mengutip pesan dalam Al-Qur’an, termasuk dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 180, bahwa harta yang tidak ditunaikan zakat dan sedekahnya kelak akan menjadi beban bagi pemiliknya di hari kiamat. Sebagai penutup, Mujibah mengajak umat Islam untuk menerapkan hidup sederhana dan tidak berlebihan.

Kesederhanaan, menurutnya, dapat melatih manusia untuk tidak serakah serta lebih mudah mensyukuri nikmat yang ada. “Jangan sampai kita lalai dari mengingat Allah, karena itu sederhanakan hidup, tunaikan kewajiban seperti zakat, dan gunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....