RRI Padang - LKAAM Sumbar, Bagaikan Aur dan Tebing
- 28 Jan 2026 13:25 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Program MAOTA yang digagas RRI Padang mendapat apresiasi positif dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat. Saat berkunjung ke RRI Padang, Rabu, 28 Januari 2026, Ketua LKAAM Sumatera Barat, Prof Fauzi Bahar yang didampingi Wakil Sekretaris LKAAM Sumbar, Arfan Dt. Tamangguang berharap, MAOTA dapat menjadi program percontohan tingkat nasional, utamanya satker RRI di Indonesia.
Untuk diketahui, MAOTA adalah konten baru yang digagas RRI Padang dengan mengkolaborasikan siaran Pro 2 yang mengambil segmen anak muda dengan siaran Pro 4 yang sarat segmen budaya. Boleh dikatakan, terobosan baru ini sebagai konten lintas segmen atau lintas generasi yang mengemas semenarik mungkin topik budaya dalam bahasa anak muda dengan narasumber kompeten yakni datuak ataupun ninik mamak.
MAOTA, sejatinya istilah yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Minang. Tidak heran, jika banyak orang Minang yang menjadi diplomat dan menduduki jabatan penting dengan kemampuan berkomunikasi yang tidak diragukan. Progam MAOTA yang diinisiasi Tim Produksi RRI Padang suatu ketika diharapkan dapat berkontribusi bagi anak-anak negeri.
“Bagaimana program ini dapat menjadi wadah yang menjembatani pewarisan serta upaya pelestarian adat dan budaya kepada generasi berikutnya yakni Gen Z. Dengan begitu, mereka tidak lupa dengan adat istiadatnya termasuk pepatah Minang yang tidak diketahui maknanya oleh sebagian besar kaum muda di daerah,” ungkap Prof, Fauzi Bahar.

Ketua LKAAM Sumbar, Prof.Fauzi Bahar saat meninjau studio Pro 4 RRI Padang. (Foto: RRI Padang)
Ia menyebut salah satu pepatah Minang sarat makna yakni “Nan kuriak kundi, nan merah sago. Nan baiak budi, nan indah bahaso”. Pepatah Minang yang menggambarkan prinsip kejujuran, keteguhan hati dan harga diri yang semestinya dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh anak muda di Minangkabau.
Prof. Fauzi Bahar menuturkan, program inovatif tersebut perlu didukung bersama. Ide-ide kreatif yang digulirkan RRI Padang melalui siarannya yang terpancar luas ke berbagai pelosok negeri sejauh ini menjadi corong bagi LKAAM dalam menjalankan kinerja, mengedukasi kaum muda melestarikan adat dan budaya.
Dalam perumpamaannya, RRI Padang dan LKAAM Sumatera Barat jelas Prof. Fauzi Bahar bagaikan aur dan tebing. Aur (bambu) yang mencengkeram tebing agar tidak terkikis dan tebing sendiri adalah tempat aur menumpang tumbuh sehingga keduanya bergantung untuk kelestarian bersama.
Senada dengan harapan yang disampaikan Kepala LPP RRI Padang, Yulian S. Saaba, SH.
“Program MAOTA memberi ruang anak-anak Minang mengenal dan menjemput kembali sesuatu yang mereka lupa atau terlupakan. Pengaruh teknologi dan budaya asing seringkali mengikis kesadaran anak negeri memahami apa yang menjadi tanggungjawabnya dalam pelestarian adat dan budaya daerah,” papar Kepala RRI Padang.
Program MAOTA yang dijadwalkan dihelat setiap minggunya dengan tema kreatif dan menggelitik naluri dua generasi berbeda, sejatinya dapat membuka cakrawala berpikir.
“Adat sama sekali tidak pernah mengekang kreatifitas anak-anak muda dalam berkreasi. Sebaliknya adat dan budaya ibarat fondasi utama yang mendorong lahirnya berbagai karya yang kesemua mencerminkan identitas, nilai-nilai dan norma dalam kehidupan bermasyarakat,” urai Yulian di akhir pertemuan.