Filosofi Jajanan Takjil Bubur Kampiun
- 26 Feb 2026 10:56 WIB
- Padang
RRI.CO.ID,Padang - Indonesia ini dikenal dengan berbagai macam Kuliner yang lezat dan selalu menghipnotis yang menikmatinya.Salah satu jajanan yang banyak dicari dalam perburuan takjil adalah “ Bubur Kampun”, Takjil yang merupakan perpaduan campuran berbagai bahan bubur ini rupanya bukan hanya sekedar jajanan lezat yang membuat kita ketagihan menikmatinya, tetapi dibalik makanan ini ada filosofis yang terkandung.
Meskipun sejarah makanan ini tidak sepenuhnya disengaja keberadaannya, sebenarnya hidangan ini punya filosofi tersendiri, Menurut artikel Bola Deli ,Filosofi bubur kampiun terletak pada perpaduan aneka rasa di dalamnya, antara lain; Kolak pisang menggambarkan Al-Khaliq, salah satu Asmaul Husna Allah SWT dengan arti Yang Maha Pencipta. Penggunaan pisang kepok dalam pembuatan kolak pun berperan sebagai pengingat untuk melaksanakan kewajiban taubat kepada Allah SWT.
Selain itu, ubi pun mencerminkan ajaran bahwa manusia hendaknya mengubur aib atau kesalahan yang pernah diperbuat supaya dapat melanjutkan hidup sesuai ridho Tuhan. Makna-makna tersebut menunjukkan kalau manusia patut senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bubur sumsum dapat dipandang sebagai simbolisasi hidup sederhana karena bahannya. Turut menyimpan makna berharga, bubur ketan hitam melambangkan eratnya perkumpulan karena bahannya melekat satu sama lain. Itulah yang mendasari mengapa bubur ketan hitam disajikan di berbagai acara, seperti pernikahan hingga kumpul keluarga saat Idulfitri.
Bubur candil pun menjadi kiasan roda kehidupan, di mana kadang merasakan di titik bawah, namun ada juga masanya berada di atas atau bernasib baik. Selain menggambarkan roda kehidupan, bubur candil juga melambangkan harmoni antara kehidupan dan budaya yang beragam.
Wah,.... ternyata bubur kampiun tidak hanya kaya akan rasa, tapi juga mengandung filosofi mendalam, Nilai yang terkandung dalam bubur ini menyentuh aspek penting dalam kehidupan, mulai dari hubungan dengan Sang Pencipta, hidup sederhana, hingga pentingnya kebersamaan dengan orang lain. Keberadaan bubur kampiun lambat laun semakin berkurang. Salah satu alasannya adalah karena cara pengolahannya cukup rumit, mengingat sajian ini perlu menyatukan sejumlah bubur dalam satu hidangan. Peningkatan harga bahan juga mempengaruhi.