Sembilan Stasiun Kereta Api Non-Aktif di Sumatera Barat

  • 22 Feb 2026 10:43 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Jalur kereta api di Sumatera Barat merupakan bentangan sejarah yang menyimpan memori kejayaan transportasi logistik pada masa kolonial. Pembangunan rel ini dahulu bertujuan utama untuk mengangkut batubara dari Sawahlunto menuju pelabuhan Emmahaven di kota Padang.

Berdasar data PT. KAI, saat ini ada 9 stasiun yang statusnya non aktif dan tersebar di beberapa wilayah yang ada di Sumatera Barat. Hampir sebagian besar stasiun-stasiun tersebut merupakan stasiun yang punya andil dalam sejarah perkeretaapian di ranah Minang dengan jalur-jalur yang legendaris.

Jalur Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh

Jalur ini dahulu sangat vital untuk pengangkutan hasil bumi serta mobilisasi penduduk di dataran tinggi Minangkabau yang menghubungkan 3 kota tersebut. Terdapat 3 stasiun yang berada pada jalur Padang Panjang - Bukittinggi - Payakumbuh ini yaitu Bukittinggi (BKT), Baso (BSO) dan Koto Baru (KTR).

  • Stasiun Bukittinggi (BKT)

    Terletak di jantung kota Bukittinggi, stasiun ini dahulunya merupakan titik akhir yang sangat sibuk sebelum jalur diteruskan ke Payakumbuh. Stasiun ini dibangun oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust (SSS) pada tahun 1891.

    Stasiun ini resmi berhenti beroperasi sekitar tahun 1980-an seiring menurunnya minat penumpang dan kalah bersaing dengan transportasi darat. Kondisinya saat ini telah dialihfungsikan dimana bangunan utama masih berdiri namun dikelilingi oleh pemukiman padat dan pertokoan, bahkan area relnya telah tertimbun beton dan bangunan semi-permanen.

  • Stasiun Baso (BSO) & Stasiun Koto Baru (KTR)

    Kedua stasiun ini berada di jalur pendakian yang ekstrem. Stasiun Koto Baru dengan kode KTR terletak di titik tertinggi jalur ini (sekitar 1.154 mdpl).

    Faktanya, jalur ini menggunakan sistem rel gigi karena kemiringan medan yang tajam. Saat ini, Stasiun Baso dan Koto Baru dalam kondisi memprihatinkan atau sudah rata dengan tanah, di mana sisa-sisa fondasi atau potongan rel hanya bisa ditemukan jika ditelisik secara teliti di antara bangunan warga.

Jalur Padang Panjang – Sawahlunto (Jalur Batubara)

Jalur ini dikenal dengan pemandangan indahnya karena melewati tepi Danau Singkarak, namun fungsi utamanya adalah membawa "emas hitam" dari Sawahlunto. Pada jalur ini, terdapat 5 stasiun yang melayani yaitu Singkarak (SKK), Sumpur (SPR), Sungai Lassi (SGL), Kepah Ilalang (KHL), dan Kandang Ampat (KDA).

  • Stasiun Singkarak (SKK) & Stasiun Sumpur (SPR)

    Stasiun ini terletak tepat di tepian Danau Singkarak dengan pemandangan yang luar biasa. Stasiun Singkarak sempat aktif kembali saat kereta wisata "Danau Singkarak" dioperasikan sekitar tahun 2009, namun kembali vakum karena alasan teknis prasarana.

    Statusnya saat ini adalah stasiun non-aktif, meski demikian untuk kondisi bangunan Stasiun Singkarak relatif masih utuh dan terjaga sebagai aset PT KAI, sebaliknya untuk bangunan dari Stasiun Sumpur cenderung lebih terbengkalai.

  • Stasiun Sungai Lassi (SGL) & Stasiun Kepah Ilalang (KHL)

    Stasiun-stasiun ini berada di rute antara Solok menuju Sawahlunto. Stasiun Sungai Lassi sempat digunakan sebagai titik persilangan kereta api batubara.

    Kondisi terkini dari stasiun Sungai Lassi yang berkode SGL tersebut yaitu bangunan stasiun masih ada namun sudah tidak melayani perjalanan reguler (hanya menjadi pos penjagaan atau hunian sementara petugas). Sementara rel di sekitarnya masih terpasang namun tertutup rumput liar.

  • Stasiun Kandang Ampat (KDA)

    Stasiun ini berada di jalur Lembah Anai yang legendaris. Karena letaknya yang berada di medan rawan longsor dan banjir bandang (seperti bencana besar yang terjadi tahun 1920-an dan 2024 lalu), infrastruktur di sini sering mengalami kerusakan parah. Saat ini, stasiun ini sudah tidak berbekas secara fungsional.

Stasiun Padang Panjang (Lama)

Stasiun Padang Panjang merupakan "jantung" dari jaringan kereta api di Sumatera Barat karena stasiun ini merupakan titik percabangan (split) menuju Bukittinggi dan Sawahlunto. Stasiun "Lama" yang dimaksud merujuk pada tata letak bangunan awal sebelum renovasi atau pergeseran fungsi depo.

Sejarah mencatat, bahwa stasiun ini memiliki depo lokomotif uap bergigi yang sangat langka. Saat ini, area Stasiun Padang Panjang masih berfungsi sebagai kantor dan aset KAI, namun tidak ada kereta api reguler yang singgah, menjadikannya lebih mirip museum hidup dengan deretan lokomotif tua yang terparkir.

Rekomendasi Berita