Ini Penjelasan Istilah Super Clipping di Regulasi Baru F1

  • 31 Mar 2026 19:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Super clipping mengacu pada kondisi mobil melambat untuk mengumpulkan energi meski injak gas penuh.
  • Saat super clipping, mobil terlihat seperti kehilangan tenaga padahal pedal gas tetap diinjak.
  • Baterai yang terisi ulang saat super clipping bisa dipakai untuk akselarasi atau menyalip (overtake).

RRI.CO.ID, Jakarta - Istilah super clipping muncul baru-baru ini setelah perubahan regulasi baru di Formula 1 2026. Konsep ini berkaitan erat dengan perubahan besar pada power unit hybrid generasi terbaru.

Super clipping adalah kondisi ketika mobil tetap dalam posisi injak gas penuh atau full throttle, tetapi sistem justru dipakai untuk mengisi ulang baterai. Sehingga tenaga ke roda berkurang walaupun pembalap tidak angkat gas.

Berbeda dengan teknik lama lift and coast, di mana pembalap harus angkat gas untuk mengumpulkan energi. Pada super clipping, pembalap tidak perlu angkat atau lepas gas.

Namun, ketika sedang berada di kondisi super clipping, mobil tidak akan mencapai kecepatan maksimalnya meskipun pembalap injak gas penuh. Malah kecepatan mobil bisa perlahan-lahan semakin berkurang dan mobil terlihat seperti kehabisan tenaga.

Hal ini terjadi karena sistem listrik MGU-K pada mobil beralih ke mode harvesting saat sedang melaju kencang. Akibatnya, sebagian tenaga mesin tidak tersalurkan untuk akselerasi dan menambah laju mobil, tapi malah terpakai untuk mengisi ulang baterai.

Seperti yang diketahui sebelumya, dalam regulasi 2026, balapan F1 mengandalkan pembagian tenaga hampir 50:50 antara tenaga mesin dan listrik. Karena itu, pengelolaan energi ini memunculkan mekanisme seperti super clipping.

Dari sisi strategi, super clipping dipakai untuk menyimpan energi agar bisa dipakai kembali di waktu lain. Energi yang dikumpulkan ini dapat dimanfaatkan untuk akselerasi atau menyalip (overtake).

Namun, efek sampingnya cukup kontroversial karena mengubah karakter balapan. Anggapannya, balapan tidak lagi sepenuhnya mengandalkan kecepatan murni dan skill dari pembalap.

Bahkan sejumlah pembalap menganggap mekanisme seperti ini bikin mobil berjalan dengan efek tarik ulur seperti "yo-yo". Keluhan itu tidak datang hanya dari satu pembalap saja, yang menunjukkan bahwa fenomena super clipping ini betul-betul memberikan dampak besar.

Selain itu, perbedaan kecepatan akibat super clipping bisa menciptakan risiko keselamatan. Bayangkan, mobil yang sedang melaju kencang tiba-tiba berhadapan dengan mobil lain di depannya yang berjalan lambat di lintasan karena sedang mengumpulkan energi.

Kalau pembalap tidak sempat antisipasi dan menghindar, crash sudah pasti terjadi. Bahkan ketika sudah menghindar pun, kecelakaan tetap bisa terjadi dan merugikan salah satu pembalap, seperti pada insiden Ollie Bearman di GP Jepang 2026.

Karena dampaknya, pihak federasi FIA dikabarkan mulai melakukan evaluasi dan penyesuaian regulasi untuk mengurangi efek tersebut. Salah satunya dengan membatasi jumlah energi yang bisa dipulihkan dalam sesi kualifikasi.

Kesimpulannya, super clipping adalah teknis dalam era baru F1 dengan niat yang inovatif demi menciptkana suasana baru dalam balapan. Tapi, implementasinya masih memicu perdebatan karena memengaruhi kecepatan, gaya balap, keselamatan, bahkan esensi keseluruhan dari balapan itu sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....