Sukses di Luar, Kosong di Dalam
- 08 Nov 2024 21:00 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Kesuksesan merupakan hal yang didamba-dambakan oleh setiap orang, baik itu kesuksesan dalam pendidikan maupun karier sesuai dengan seseorang itu memaknai kata “Sukses”. Namun, suksesnya seseorang di mata orang lain tidak menjadi penentu suksesnya ia terhadap dirinya sendiri. Maksudnya seseorang yang terlihat sukses di mata orang lain belum tentu ia merasa puas atau merasa terpenuhi secara emosional dan spiritual, bahkan cenderung orang tersebut merasa hampa dengan semua yang ia capai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi pendorong akan terjadinya kasus ini.
Fenomena ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah kesalahan dalam menentukan prioritas. Kesalahan menentukan prioritas cenderung akan lebih fokus terhadap pencapaian eksternal seperti karier dan pendidikan, sehingga lupa akan hal penting lainnya seperti kesehatan mental, interpersonal, dan fashion yang sesuai terhadap dirinya. Sehingga yang ia prioritaskan hanya pencapaiannya saja tanpa melihat apakah pencapaian itu sesuai dengan kepriadiannya atau tidak. Salah satu dampak negatif dari kasus ini adalah mereka mungkin akan kehilangan diri sendiri dan nilai-nilai yang ada pada dirinya. Misalnya seseorang yang sukses bekerja di perusahaan ternama dengan gaji yang tinggi dan tinggal di rumah yang mewah. Namun, ia merasa hampa dan tidak bahagia. Ia kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, sering merasa cemas, depresi dan tidak memiliki waktu untuk kegiatan yang membuatnya merasa hidup. Ketidakseimbangan ini bedampak negatif pada kesehatannya dan rasa kepuasannya terhadap hidup.
Seseorang yang sudah berada pada posisi keamanan finansial cenderung takut untuk mengejar apa yang mereka inginkan karena takut posisinya saat ini akan hilang. Kita kadang mendefinisikan “sukses” yaitu dengan pencapaian materi atau karier. Hal ini menyebabkan tekanan sosial untuk individu untuk mengejar kesuksesan tanpa mempertimbangkan aspek emosional dan spiritual. Padahal sukses tidak hanya diukur oleh karier atau pencapaian, kita sering lupa bahwa kebahagiaan dan ketenangan juga merupakan bentuk kesuksesan yang ingin kita dapatkan, karena kehidupan bukan hanya tentang prestasi. Kita perlu menyeimbangan semua aspek kehidupan dunia seperti prestasi, pendidikan, dan kehidupan akhirat seperti ibadah sehingga mampu mencapai ketenangan dan kebahagiaan yang lebih besar.
Faktor ini menyebabkan seseorang takut untuk menggapai keingnannya sehingga ia akan sulit merasakan bahagia pada posisi jabatannya. Dan hal yang mungkin perlu kita ingat adalah jangan terlalu mementingkan pandangan orang lain terhadap diri kita, karena sejatinya kita hidup bukan untuk membahagiakan mereka.
Terkadang, tekanan sosial memperparah keadaan ini. Kita sering kali mendapati standar kesuksesan yang ditentukan oleh masyarakat atau keluarga, yang akhirnya menambah beban bagi seseorang. Dalam beberapa kasus, generasi muda, seperti generasi Z, sangat terpengaruh oleh isu ini. Di era di mana istilah “kesehatan mental” menjadi populer, generasi muda mulai mengakui pentingnya kesehatan psikologis dan emosional dalam menjalani kehidupan. Sayangnya, banyak orang tua atau pihak di sekitar mereka yang tidak sepenuhnya memahami hal ini. Mereka cenderung menentukan standar kesuksesan anak berdasarkan pencapaian eksternal atau sesuai dengan standar yang diterapkan oleh orang lain, tanpa mempertimbangkan potensi dan keinginan pribadi anak tersebut.
Misalnya, ada orang tua yang menetapkan standar akademis yang tinggi bagi anak-anak mereka, berharap mereka bisa secerdas atau sesukses anak-anak lainnya. Ketika anak tidak mampu mencapai ekspektasi tersebut, ia sering kali merasa tertekan dan dipaksa untuk terus berusaha tanpa memperhatikan kesehatan mentalnya. Sebuah penelitian yang menggunakan data dari Secure Anonymized Information Linkage (SAIL) menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir antara tahun 1987 dan 2018 memiliki catatan medis jangka panjang terkait gangguan mental. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka dalam mencapai prestasi akademis yang diinginkan oleh keluarga atau lingkungannya. Hal ini dapat menyebabkan anak merasa kurang berharga dan tidak percaya diri, yang pada akhirnya menjadi akar dari perasaan hampa dan kosong di kemudian hari, meskipun mereka mungkin berhasil secara akademis atau profesional.
Selain faktor internal dari lingkungan keluarga, perkembangan media sosial yang pesat turut berperan dalam menciptakan fenomena “kosong di dalam.” Media sosial kerap menjadi tempat bagi orang untuk membagikan pencapaian hidup mereka. Baik itu kesuksesan dalam karier, kehidupan pribadi yang bahagia, atau hal-hal lain yang tampak ideal di mata orang lain. Namun, konten-konten tersebut sering kali menciptakan perasaan tidak cukup pada orang yang melihatnya. Beberapa orang merasa iri dan tertekan saat melihat kesuksesan orang lain, sementara sebagian lainnya merasa tidak percaya diri dan rendah diri. Perasaan insecure atau tidak percaya diri ini bisa semakin parah jika seseorang membandingkan kehidupannya dengan standar yang ditampilkan di media sosial. Padahal, yang tampak di media sosial hanyalah potret sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Di sinilah, pentingnya bagi kita untuk menyadari bahwa pencapaian orang lain tidak semestinya menjadi tolok ukur utama dalam hidup kita. Sebaliknya, kita bisa menjadikan pencapaian tersebut sebagai motivasi untuk lebih baik, tanpa harus merasa terbebani oleh standar yang diciptakan orang lain.
Agar terhindar dari perasaan “kosong di dalam,” kita perlu memiliki pandangan hidup yang lebih seimbang. Salah satu solusinya adalah dengan menjadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai pembanding yang membuat kita rendah diri. Kita juga bisa mencoba berteman dengan orang-orang yang memiliki visi dan pandangan hidup yang sejalan, sehingga komunikasi dan motivasi yang kita dapatkan lebih relevan dengan kebutuhan kita. Selain itu, memahami diri sendiri juga sangat penting. Dengan memahami apa yang benar-benar kita butuhkan secara emosional dan spiritual, kita akan lebih mudah menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sejati dalam hidup.
Kesuksesan material memang penting. Namun, kebahagiaan emosional dan spiritual juga tak kalah berharga. Menyeimbangkan keduanya adalah kunci untuk mencapai hidup yang penuh makna dan kepuasan. Tanpa kebahagiaan batin, kesuksesan yang kita capai akan terasa hampa dan tidak bermakna. Karena itu, memahami makna “sukses” dengan cara yang lebih luas dan mendalam sangatlah penting. Tidak ada salahnya mengejar pencapaian dalam hal duniawi, namun kita juga harus memperhatikan hubungan kita dengan Sang Pencipta dan aspek spiritualitas dalam hidup. Keseimbangan antara pencapaian duniawi dan kedekatan dengan Tuhan akan membawa kebahagiaan sejati dan ketenangan yang kita cari. Dengan begitu, kita dapat merasakan kebermaknaan hidup yang sesungguhnya dan mencapai sukses yang tak hanya tampak di luar, tapi juga terasa penuh dan utuh di dalam diri kita.
Penulis: Tasya (Data Analis Family Research of Wets Borneo)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....