Menpora: Olahraga Bukan Biaya, tetapi Investasi Bangsa

  • 15 Sep 2026 03:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir menyebut partisipasi masyarakat Indonesia dalam kegiatan olahraga masih tergolong rendah
  • Dari 125 juta penduduk berusia 13-30 tahun, baru 17,5 persen yang aktif berpartisipasi dalam hal partisipasi olahraga aktif

RRI.CO.ID, Tangerang - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyebut partisipasi masyarakat Indonesia dalam olahraga masih tergolong rendah. Dari 125 juta penduduk berusia 13-30 tahun, baru 17,5 persen yang aktif berolahraga.

“Secara demografi, 125 juta di usia 13-30 tahun, tetapi yang berpartisipasi di olahraga itu hanya 17,5 persen. Jadi jauh komparasinya,” ujar Erick saat menghadiri Alfamart Run 2026 di Tangerang, Senin 14 September 2026.

Erick kemudian membandingkan tingkat partisipasi olahraga Indonesia dengan Jepang. Menurutnya, meski populasi Jepang semakin menua, sekitar 65 persen masyarakatnya aktif berolahraga.

“Kalau kita lihat komparasi negara kita dengan beberapa negara lain, Jepang itu penduduknya makin tua. Namun yang aktif berolahraga 65 persen,” kata dia.

Karena itu, Erick menilai berbagai kegiatan olahraga, termasuk lari, perlu terus dikembangkan. Selain meningkatkan kebugaran, aktivitas olahraga juga memberikan dampak positif bagi kesehatan dan kualitas generasi bangsa.

Erick menekankan olahraga tidak semestinya hanya dipandang sebagai pengeluaran atau biaya. Menurutnya, olahraga merupakan bentuk investasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi bangsa.

“Olahraga itu selama ini dilihat seperti hanya biaya. Padahal olahraga itu adalah sebuah investasi,” ucapnya.

Menurut Erick, setidaknya ada tiga bentuk investasi yang dihasilkan dari olahraga. Ketiganya meliputi investasi karakter, kesehatan, dan ekonomi.

Dari sisi karakter, olahraga dapat melatih masyarakat menjadi lebih tangguh, disiplin, dan memiliki daya juang. Sementara dari sisi kesehatan, peningkatan partisipasi olahraga penting untuk menciptakan generasi yang sehat.

Erick menilai kemajuan sebuah bangsa tidak terlepas dari kualitas generasi mudanya. Karena itu, peningkatan partisipasi olahraga menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan generasi bangsa.

Selain karakter dan kesehatan, olahraga juga dinilai memberikan dampak terhadap perekonomian. Kegiatan seperti lomba lari dapat menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor pariwisata, hingga industri olahraga.

Erick mengatakan pemerintah tengah mendorong pengembangan industri olahraga (sport industry) dan pariwisata olahraga (sport tourism). Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program, salah satunya gelaran Indonesia Sports Summit.

“Kita tengah mengembangkan yang namanya potensi sport industry dan sport tourism. Dan kita ini ketinggalan jauh,” ucap Erick.

Sementara itu, nilai industri olahraga global mencapai sekitar Rp8.000 triliun atau Rp8 kuadriliun. Nilai industri olahraga Indonesia baru sekitar Rp40 triliun atau 0,5 persen dari nilai global.

Karena itu, Erick berharap partisipasi masyarakat dalam olahraga terus meningkat. Ia juga mendorong sektor swasta ikut mengambil peran dalam pengembangan olahraga nasional.

Erick mengapresiasi penyelenggaraan Alfamart Run 2026 yang dinilainya sebagai bagian dari investasi karakter hingga perekonomian nasional. "Olahraga itu yang selama ini dilihat seperti hanya biaya, padahal olahraga itu adalah sebuah investasi karakter bangsa, investasi kesehatan dan investasi perekonomian," kata Erick.

Ia menegaskan pentingnya mengubah paradigma masyarakat terhadap olahraga. Olahraga perlu dipandang bukan sebagai pengeluaran, melainkan investasi strategis bagi bangsa.

Olahraga, termasuk ajang lari seperti Alfamart Run, menjadi media penting membentuk mentalitas masyarakat yang tangguh dan pekerja keras. Aktivitas tersebut juga dapat menumbuhkan kedisiplinan dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kedisiplinan tersebut tercermin dari hal sederhana, seperti ketepatan waktu para pelari saat mengikuti ajang kompetisi. "Dengan olahraga kita dibangun untuk menjadi karakter yang tangguh," katanya.

Direktur Corporate Affairs Alfamart, Solihin, menjelaskan ukuran tas yang tidak biasa disiapkan sebagai bentuk apresiasi bagi para pelari. Apresiasi tersebut diberikan kepada peserta yang antusias mengikuti perayaan ulang tahun perusahaan.

“Peserta Alfamart Run bukan hanya mendapatkan pengalaman berlari," ucapnya.

Setelah mencapai garis finis, para peserta juga membawa pulang goodie bag dengan isi yang cukup banyak. Bahkan, bobotnya mencapai sekitar 50 kilogram.

"Kami ingin memberikan pengalaman yang lebih bagi 5.000 peserta yang tahun ini. Mereka berhasil mendapatkan tiket,” ujar Solihin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....