Sebanyak 72 Klasifier Olahraga Disabilitas Indonesia Dinyatakan Lulus

  • 04 Jul 2026 00:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenpora bersama NPC Indonesia mencetak 72 tenaga klasifikasi olahraga disabilitas fisik baru melalui program sertifikasi nasional.
  • Program pelatihan ini menyasar keterwakilan peserta dari wilayah Indonesia barat di Solo dan Indonesia timur di Makassar.
  • Penambahan jumlah klasifikasi olahraga ini mempermudah proses penyaringan bibit atlet disabilitas di berbagai daerah Indonesia secara merata.

RRI.CO.ID, Solo - Sebanyak 72 peserta pelatihan resmi mendapatkan sertifikasi sebagai tenaga klasifikasi olahraga disabilitas fisik nasional. Kelulusan para peserta tersebut dipastikan setelah mereka mengikuti rangkaian ujian khusus di dua wilayah.

Total terdapat 77 utusan dari 28 provinsi yang mengikuti program pembekalan sertifikasi olahraga tersebut. Kegiatan kolaborasi ini digagas oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Pelatihan wilayah barat diikuti oleh 45 peserta di Kota Solo pada 19 hingga 22 Mei 2026. Seluruh utusan dari wilayah barat itu berhasil dinyatakan lulus ujian teori maupun praktik lapangan.

Sementara pelatihan wilayah timur diselenggarakan di Kota Makassar sejak 29 Juni sampai 2 Juli 2026. Sebanyak 27 orang lulus dari total 32 peserta asal sebelas provinsi di Indonesia timur.

Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora Leny Kurnia memberikan tanggapan resmi terkait kelulusan ini. NPC Indonesia merilis laporan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi tersebut pada Jumat, 3 Juli 2026 secara terbuka.

"Output dari kegiatan ini, kami ingin ada tenaga klasifier baru yang berkompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah-daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi, sehingga ada pemerataan di setiap provinsi untuk memiliki klasifier olahraga disabilitas," kata Leny Kurnia, Kamis, 2 Juli 2026.

Chief Classifier NPC Indonesia Retno Setianing menjelaskan pentingnya standardisasi bagi atlet. Pemerataan sertifikasi ini akan membuka peluang bagi penyandang disabilitas daerah untuk diarahkan sesuai potensi olahraga.

"Kita menghadapi tantangan, dengan luasnya wilayah Indonesia, masih sedikit kesadaran masyarakat di daerah bahwa para penyandang disabilitas juga bisa berprestasi. Klasifikasi menjadi hal yang sangat penting dalam olahraga disabilitas karena menjadi pondasi untuk pertandingan yang setara, sehingga tidak ada pertandingan tanpa proses klasifikasi," kata Retno.

Retno juga menambahkan pandangannya mengenai langkah strategis dalam pembinaan jangka panjang calon atlet nasional. Para calon atlet di daerah membutuhkan bimbingan teknis yang tepat untuk menentukan nomor pertandingan.

"Dengan adanya pelatihan di Makassar ini, diharapkan akan ada klasifier baru yang bisa membantu untuk memberikan klasifikasi di daerahnya masing masing, sehingga calon atlet yang direkrut sudah memiliki, atau paling tidak penempatan yang mendekati dalam perkiraan sport class. Dengan begitu, ketika akan dibina olah daerahnya, sport class dari calon atlet tersebut tidak meleset terlalu jauh. Ini hal yang baik dalam mencari bibit-bibit atlet baru karena kita harus mempersiapkan Paralympic 2028," ujar Retno.

Peserta asal Provinsi Bali Made Dwi Puja Setiawan mengapresiasi pelaksanaan pelatihan nasional ini. Ia mendapatkan banyak materi baru yang sangat berguna untuk proses pengelompokan atlet penyandang disabilitas.

"Menurut saya, pelatihan ini sangat penting untuk diberikan kepada tenaga klasifier dan disebar ke semua daerah karena tidak mungkin penyandang disabilitas hanya terpusat di kota-kota besar saja. Penyandang disabilitas di semua daerah memerlukan tenaga untuk mengklasifikasikan seorang atlet disabilitas, cocoknya kemana gitu, sehingga bisa menjangkau atlet lebih banyak dan variasi atlet yang dijangkau juga menjadi lebih banyak," ucap Made Puja.

Made juga berharap adanya program lanjutan berkelanjutan yang menyasar spesifikasi cabang olahraga tertentu nantinya. Penguasaan materi terbaru tersebut bertujuan untuk memaksimalkan peran nyata seluruh tenaga klasifikasi di daerah.

"Harapannya pelatihan ini bisa berkesinambungan, dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan yang lainnya, juga ketika ada update-update ilmu yang berkembang secara internasional bisa disampaikan ke semua daerah," ucap Made Puja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....