Tim Thomas Indonesia Tak Mampu Bersaing, Bung Kus: Regenerasi Secepatnya
- 29 Apr 2026 15:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat olahraga nasional M. Kusnaeni menilai kegagalan Tim Thomas Indonesia di Piala Thomas 2026 sebagai pukulan besar bagi tradisi bulu tangkis Tanah Air.
- Kusnaeni menilai para pemain gagal menampilkan performa optimal sepanjang fase grup.
- Bung Kus menegaskan, hasil ini harus direspons serius oleh PP PBSI melalui evaluasi menyeluruh.
- Bung Kus pun mendorong langkah berani berupa regenerasi skuad beregu putra.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat olahraga nasional M. Kusnaeni menilai kegagalan Tim Thomas Indonesia di Piala Thomas 2026 sebagai pukulan besar bagi tradisi bulu tangkis Tanah Air. Hasil tersebut, menurutnya, bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan capaian yang sulit diterima jika melihat rekam jejak Indonesia di ajang ini.
“Kegagalan tim Thomas Cup Indonesia lolos dari fase grup merupakan tragedi. Ini pertama kalinya Indonesia mengalami hal itu,” ujar sosok yang akrab disapa Bung Kus itu.
Ia menyoroti kontrasnya hasil ini dengan sejarah panjang Indonesia sebagai peraih 14 gelar di Piala Thomas. Bahkan dalam tiga edisi sebelumnya, Indonesia konsisten menembus partai puncak, yang menunjukkan standar performa tim sejatinya berada di level elite.
Dari sisi komposisi, Kusnaeni tidak melihat persoalan mendasar. Tim yang diturunkan dinilai sudah berisi pemain-pemain terbaik, baik di sektor tunggal maupun ganda.
Ia juga menilai keputusan strategi, termasuk pemilihan pasangan ganda putra, sudah berada di jalur yang tepat. Namun, persoalan muncul pada eksekusi di lapangan.
Kusnaeni menilai para pemain gagal menampilkan performa optimal sepanjang fase grup. “Justru yang tidak memenuhi harapan adalah performa para pemain, karena gagal menunjukkan kemampuan terbaik,” ujarnya.
Indikasi itu sudah terlihat saat Indonesia harus bersusah payah menundukkan Thailand dengan skor 3-2. Dalam pertandingan tersebut, Alwi Farhan justru takluk dari Sitthikom Thammasin yang secara peringkat berada di bawahnya.
Performa tunggal utama Jonatan Christie juga menjadi sorotan. Ia gagal tampil konsisten setelah kalah dari Kunlavut Vitidsarn dan kembali tumbang saat menghadapi Christo Popov.
Bung Kus menegaskan, hasil ini harus direspons serius oleh PP PBSI melalui evaluasi menyeluruh. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan ini bisa menjadi tanda pergeseran kekuatan di level global.
“Indonesia tidak lagi berada dalam posisi superior. Itu terlihat dari kekalahan 1-4 dari Prancis dan kemenangan tipis atas Thailand,” katanya.
Malah lebih mengkhawatirkan, hasil tersebut diraih sebelum Indonesia menghadapi negara-negara kuat seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Denmark. Maka hasil yang didapat sekarang harus dijadikan perhatian mendalam.
Bung Kus pun mendorong langkah berani berupa regenerasi skuad beregu putra. Ia menilai pemain muda seperti Ubaidillah serta pasangan Indra/Joaquin sudah layak mendapat panggung lebih besar.
Menurutnya, Indonesia kemungkinan harus melalui masa transisi dalam satu hingga dua tahun ke depan. Hal itu seiring bertambahnya usia pemain-pemain utama seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, serta pasangan Sabar/Reza.
“Generasi baru mungkin tidak langsung mengangkat prestasi. Tapi langkah regenerasi harus diambil demi masa depan,” ujarnya.
Ia lantas mencontohkan keberhasilan negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Tiongkok. Mereka disebut lebih dulu melakukan peremajaan tim dan kini mulai kembali kompetitif di panggung internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....