Presiden Prabowo Cerita Perjalanan 34 Tahun Pengabdian di Pencak Silat Nasional

  • 12 Apr 2026 08:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo menyebut pencak silat sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya, dan telah terlibat aktif selama 34 tahun dalam pengembangannya.
  • Presiden Prabowo turut mengenang awal ketertarikannya terhadap pencak silat yang telah tumbuh sejak usia muda.
  • Presiden Prabowo menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pencak silat Indonesia meski tak lagi menjabat sebagai ketua umum PB IPSI.

RRI.CO.ID, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengisahkan perjalanan panjang pengabdiannya di dunia pencak silat selama lebih dari tiga dekade. Menurut Kepala Negara, pencak silat adalah bagian penting dalam perjalanan hidupnya, dengan terlibat aktif selama 34 tahun.

Demikian disampaikannya pada pembukaan Musyawarah Nasional ke-16 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Jakarta, Sabtu, 11 April 2026. “Sebagai Wakil Ketua Umum IPSI empat periode, kemudian sebagai Ketua Umum lima periode,” ucapnya.

Presiden juga menyampaikan keputusannya untuk tidak melanjutkan jabatan sebagai Ketua Umum PB IPSI. Hal tersebut berkaitan dengan tanggung jawabnya sebagai Kepala Negara yang membutuhkan perhatian penuh.

“Alhamdulillah hari ini saya menyatakan mohon izin untuk tidak lanjut sebagai Ketua Umum PB IPSI,” ujarnya. “Saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu, sehingga tidak mungkin saya efektif sebagai Ketua Umum PB IPSI.”

Meski tidak lagi aktif di garis depan organisasi, Presiden menegaskan tetap memberikan dukungan terhadap perkembangan pencak silat nasional. Menurut Kepala Negara, kontribusinya kini lebih banyak dilakukan dari belakang.

“Saya pun minta maaf sudah hampir tiga tahun saya tidak terlalu aktif,” ucapnya. “Namun saya mendukung selalu dari belakang, apalagi dengan posisi sebagai Presiden, pembinaan PB IPSI akan lebih dahsyat lagi.”

Pada kesempatan itu Presiden juga menyinggung pentingnya kesinambungan kepemimpinan di tubuh IPSI. Menurut Kepala Negara, kepemimpinan organisasi merupakan bagian dari estafet perjuangan yang harus diteruskan.

“Sebenarnya Ketua Umum PB IPSI itu adalah Pak Eddy Nalapraya, saya hanya penggantinya,” ujarnya. Kepala Negara mengakui tidak tahu siapa yang akan memimpin PB IPSI selanjutnya dan itu diserahkan kepada Munas kali ini.

Presiden turut mengenang awal ketertarikannya terhadap pencak silat yang telah tumbuh sejak usia muda. Menurut dia, latar belakang keluarga turut membentuk kecintaannya terhadap bela diri tradisional tersebut.

“Kakek saya adalah salah satu penggemar dan pendiri perguruan pencak silat di Madiun, Setia Hati, saat itu tahun sebelum kemerdekaan,” ujarnya. “Kemudian orang tua saya juga salah satu pembina PB IPSI dalam waktu cukup lama.”

Meski tak lagi menjabat Ketua Umum PB IPSI, Presiden menegaskan akan terus mendukung perkembangan pencak silat Indonesia. “Dengan jabatan maupun tidak, seorang pendekar akan tetap menjadi pendekar sampai napas terakhir,” ucapnya.

Presiden turut mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mengharumkan nama bangsa melalui pencak silat. “Kita mendukung norma berbangsa di mata dunia, perjalanan masih jauh, kita berharap pencak silat akan masuk Olimpiade," katanya.

Menurut Presiden, selain mengejar prestasi global, menjaga kemurnian nilai pencak silat tetap menjadi hal utama. "Kita yakin akan masuk, tapi kita tidak perlu juga terlalu obsesi, kalau ilmunya murni, ilmunya kuat,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....