Makin Semangat di Akhir Ramadan
- 11 Mar 2026 06:16 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Bulan suci Ramadan yang hampir berakhir hendaknya menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan, Ustaz Anam Azhari saat menjadi narasumber acara Mutiara Pagi di RRI Nunukan.
Menurutnya, umat Islam tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga yang hanya datang setahun sekali tersebut. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang akan merugi apabila bertemu dengan bulan Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah SWT hingga Ramadan berlalu.
“Ramadan hampir berakhir, jangan sampai kita belum bertaubat. Sangat rugi jika Ramadan datang kemudian berlalu begitu saja tanpa kita memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Ustaz Anam menjelaskan, sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat istimewa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Rasulullah bahkan “mengencangkan ikat pinggangnya”, yang dimaknai sebagai bentuk keseriusan dan semangat beliau dalam menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah.
Pada malam-malam terakhir Ramadan juga terdapat malam yang sangat mulia, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik dari seribu bulan karena nilai ibadah yang dilakukan pada malam tersebut setara dengan ibadah selama seribu bulan atau lebih dari 83 tahun.
“Rasulullah menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan karena di dalamnya ada malam Lailatul Qadar. Pada malam itu, pahala ibadah yang kita lakukan nilainya seperti beribadah selama seribu bulan,” jelasnya.
Selain memperbanyak ibadah, Rasulullah juga mencontohkan untuk membangunkan keluarga agar turut menghidupkan malam dengan berbagai amalan seperti salat malam, berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah SAW juga melaksanakan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
“Rasulullah semakin bersemangat pada sepuluh malam terakhir, bahkan melebihi hari-hari sebelumnya. Ini menjadi teladan bagi kita agar tidak justru melemah menjelang akhir Ramadan,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesibukan menjelang Hari Raya seperti mempersiapkan kue, membersihkan rumah, atau mengatur cuti bukanlah hal yang dilarang dan bahkan bisa bernilai ibadah. Namun, kegiatan tersebut tidak boleh membuat umat Islam meninggalkan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, dan ibadah lainnya.
Menurutnya, keseimbangan antara ibadah malam dan siang juga harus dijaga. Jangan sampai seseorang bersemangat beribadah di malam hari, tetapi justru mengabaikan kualitas puasanya di siang hari.
“Malam kita beritikaf, tetapi siangnya juga harus menjaga puasa dengan baik. Jangan hanya semangat di malam hari, tetapi siang harinya lalai. Ayo sama-sama kita usahakan puasa kita sempurna di sepuluh hari terakhir Ramadan ini,” katanya.
Di akhir Ramadan, umat Islam juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Ustaz Anam menjelaskan bahwa zakat fitrah memiliki dua fungsi utama, yaitu menyucikan orang yang berpuasa dari kesalahan yang mungkin terjadi selama Ramadan, serta membantu memenuhi kebutuhan kaum fakir dan miskin.
“Zakat fitrah berfungsi untuk mensucikan orang yang berpuasa, misalnya jika selama Ramadan kita pernah melakukan ghibah atau melakukan hal yang tidak seharusnya. Selain itu, zakat juga menjadi makanan dan kecukupan bagi mereka yang membutuhkan,” jelasnya.
Selain zakat fitrah, umat Islam juga dianjurkan menunaikan zakat mal seperti zakat perdagangan atau harta lainnya bagi yang telah memenuhi syarat.
Melalui sunnah qauliyah maupun fi’liyah, Rasulullah SAW telah memberikan teladan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan di sepuluh malam terakhir Ramadan, termasuk dalam upaya meraih malam Lailatul Qadar.
Ustaz Anam pun mengajak umat Islam untuk memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada jaminan bahwa setiap orang akan kembali bertemu dengan Ramadan di tahun berikutnya.
“Belum tentu kita dipertemukan lagi dengan Ramadan yang akan datang. Karena itu mari kita semangatkan ibadah di akhir Ramadan ini agar Ramadan kita benar-benar menjadi Ramadan yang terbaik,” pungkasnya.