Tari Sole Oha dan Beku Hidupkan Budaya Atakore
- 13 Okt 2025 10:29 WIB
- Ende
KBRN, Lembata: Irama gong dan denting lesung terdengar menggema di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Selasa (8/10/2025). Suasana penuh khidmat dan kehangatan itu menjadi bagian dari kunjungan RRI dalam rangkaian Festival Lamaholot 2025, yang menampilkan kekayaan tradisi dan potensi budaya Atakore, salah satu desa yang dikenal sebagai penjaga warisan leluhur Lamaholot.
Dua tarian sakral menjadi sorotan utama: Tari Sole Oha dan Tari Beku. Keduanya bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi ungkapan jiwa masyarakat Lamaholot yang sarat makna dan nilai spiritual.
Tari Sole Oha, dimainkan dalam lingkaran dan diiringi syair-syair adat, menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Gerakannya yang harmonis mencerminkan kesatuan hati dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Sole Oha adalah wujud rasa syukur kami atas kehidupan, hasil bumi, dan persaudaraan yang tetap terjalin erat,” ujar Sinta, salah satu penari perempuan dengan mata berbinar.
Sementara itu, Tari Beku menghadirkan kisah perjuangan leluhur Lembata. Melalui hentakan kaki dan nyanyian berirama cepat, tarian ini menuturkan kisah tentang keberanian dan keteguhan masyarakat dalam menghadapi cobaan, termasuk musibah air bah yang pernah melanda.
Bagi masyarakat Atakore, setiap gerak dalam tarian Beku adalah doa dan kenangan atas kekuatan untuk bertahan. Kepala Desa Atakore, Yoakim Wato, menyampaikan kebanggaannya atas perhatian pemerintah dan RRI terhadap pelestarian budaya lokal.
“Kami di Atakore percaya bahwa budaya adalah napas kehidupan. Selama tarian ini terus dimainkan, selama itu pula identitas kami akan hidup,” ucapnya.
Yoakim menambahkan, selain memiliki kekayaan seni tari, Atakore juga menyimpan potensi wisata budaya yang besar. Lanskap alam yang indah berpadu dengan tradisi yang masih terjaga membuat desa ini layak dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya.
“Kami ingin Atakore dikenal bukan hanya karena keindahannya, tapi juga karena kearifan lokal yang diwariskan dari nenek moyang kami,” katanya.
Festival Lamaholot 2025 menjadi momentum penting bagi masyarakat Atakore untuk memperkenalkan warisan budaya mereka ke khalayak luas. Dalam setiap hentakan kaki dan alunan syair, masyarakat Lembata seakan ingin berkata: budaya bukan sekadar masa lalu — ia adalah kekuatan untuk menatap masa depan.