Miskonsepsi Calistung Masih Jadi Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini di Nisel
- 06 Agt 2026 17:59 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan - Pola pikir masyarakat yang mementingkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung) dinilai menjadi tantangan terbesar dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Oleh karenanya, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan terus mendorong perubahan pola pikir tersebut dimana pembentukan karakter anak lebih penting ketimbang kemampuan calistung.
Kabid PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan, Pieter Bu’ulolo, S.Sos., M.AP., menjelaskan bahwa satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebenarnya telah memiliki program kelas parenting atau kelas orang tua. Melalui kegiatan tersebut, Guru memberikan pemahaman bahwa kesiapan belajar, kemandirian, dan pembentukan karakter jauh lebih penting dibandingkan kemampuan calistung pada usia dini.
“Yang lebih penting adalah kesiapan anak untuk mau belajar dan mandiri. Untuk apa bisa calistung tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Ini yang kita berikan pemahaman kepada orangtua,” kata Pieter pada saat menyampaikan paparannya dalam kegiatan Kampanye Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di Teluk Dalam pekan lalu, Rabu 29 Juli 2026.

Menurut Pieter, anak tidak akan memperoleh manfaat yang maksimal apabila hanya mampu membaca dan menulis tetapi tidak memiliki sikap mandiri maupun rasa tanggung jawab. Karena itu, orang tua didorong untuk memberikan kesempatan kepada anak belajar bertanggung jawab sejak usia dini melalui aktivitas sederhana di rumah.
“Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Amerika, ini selama 70 tahun bahwa kebanyakan anak-anak yang sukses penentunya adalah anak sudah diberikan tanggungjawab sejak dini,” ujarnya.
Oleh karena itu mengajak para orang tua untuk tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik semata. Menurutnya, anak yang menjadi juara kelas tetapi memiliki perilaku buruk, seperti malas atau gemar memaki, tidak mencerminkan keberhasilan Pendidikan yang sesungguhnya.
Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Kurikulum tersebut tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mendorong sekolah menumbuhkan tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan belajar anak secara menyeluruh.
“Kami dari Dinas Pendidikan siap membantu memberikan pemahaman kepada orang tua. Karena kalau tidak dari sekarang disampaikan maka dikhawatirkan tidak bisa sejalan dengan harapan kita karena orangtua juga memanjakan anaknya di rumah,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, fasilitator Program KREASI, Maria Maristella Bago mengemukakan, masih banyak orang tua yang menilai keberhasilan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hanya dari kemampuan anak membaca, menulis, dan berhitung atau calistung. Padahal pandangan tersebut merupakan miskonsepsi yang perlu diluruskan karena tujuan utama PAUD adalah membangun karakter dan kesiapan belajar anak.

Maria menjelaskan bahwa anak yang dipaksa menguasai calistung terlalu dini berpotensi kehilangan rasa ingin tahu. Selain itu, tekanan belajar yang tidak sesuai usia dapat membuat anak mudah mengalami stres dan tidak menyukai sekolah.
“Anak yang dipaksa calistung terlalu dini dapat kehilangan rasa ingin tahu, mudah stress, tidak suka sekolah. Bukan hanya di SD, di PAUD saja anak sudah dipakasa calistung,” ungkapnya.
Ia menegaskan kemampuan membaca masih dapat diajarkan secara bertahap ketika anak memasuki jenjang berikutnya. Namun, karakter seperti percaya diri, mampu mengendalikan emosi, mandiri, dan mampu bekerja sama membutuhkan waktu yang panjang untuk dibentuk.
Ketua Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kabupaten Nias Selatan ini juga menekankan bahwa anak yang belum lancar membaca masih bisa dibimbing oleh Guru. Sebaliknya, anak yang memiliki masalah dalam pengendalian emosi maupun kemampuan bersosialisasi akan lebih sulit beradaptasi selama proses pembelajaran.
Oleh karena itu, melalui program Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan akan mendukung proses kesiapan belajar anak. Hal ini tentunya mempengaruhi keberhasilan anak dalam melakukan penyesuaian diri di jenjang Pendidikan dasar.
“Jadi Guru PAUD memiliki peran sebagai fasilitator yang mendampingi anak belajar melalui bermain, bereksplorasi, bertanya, dan mencoba berbagai pengalaman baru. Sementara guru SD diharapkan mengenali kemampuan awal setiap anak tanpa langsung menuntut seluruh peserta didik sudah mampu membaca sejak hari pertama sekolah,” ujarnya.
Maria menilai keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari kemampuan akademik anak pada usia dini. Menurutnya, anak yang bahagia, berkarakter, mandiri, percaya diri, dan memiliki semangat belajar justru memiliki bekal lebih kuat untuk meraih keberhasilan di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....