Inspirasi Petrus Wau Dibalik “Mobil Wisata” Untuk Anak-anak

  • 19 Jan 2026 15:19 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Di awal tahun 2026 ini, anak-anak yang bersekolah di Yayasan Pembina Sinar Fanayama yang berlokasi di Desa Bawofanayama Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan punya transportasi baru. Sebuah mobil rakitan dengan menggunakan mesin Panther Turbo 2.5 yang di cat warna-warni dan bergambar karakter kartun kini menjadi penyemangat anak-anak untuk bersekolah.

Adalah Kepala Desa Bawofanayama, Petrus Wau yang menjadi penggagas sekaligus perancang desain transportasi yang meniru odong-odong ini. Tujuannya untuk membantu anak-anak kurang mampu di desanya agar lebih semangat lagi bersekolah.

“Saya berpikir ini transportasi untuk anak-anak, jadi kalau anak-anak biasanya suka warna warni, suka yang unik-unik,” ungkapnya, Senin 19 Januari 2026. “Walaupun terseok-seok, sebagian penghasilan saya, saya kumpul.”

Butuh waktu tiga tahun bagi Petrus Wau untuk bisa mewujudkan harapan tersebut. Mulai dari menyisihkan dana, merancang model dan warna serta perakitan membutuhkan proses yang panjang.

Hingga akhirnya, transportasi anak-anak idamannya bisa dijemput dari lokasi pembuatan yang berada di wilayah Tangerang. Ia pun menempuh perjalanan lima hari untuk bisa membawa mobil ini ke Nias Selatan.

Mobil yang dimodif ini bisa mengangkut penumpang yang lebih banyak. Menurut Petrus, mobil tersebut berkapasitas 32 orang desa dan 50 anak-anak.

“Kenapa kami juga buat sedikit unik, baru satu-satunya model mobil ini ada di Nias Selatan,” ujarnya dengan nada bahagia. “Semoga Bapak Bupati dan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan bisa terpanggil hatinya untuk mendukung program kami ini.”

Saat ini, biaya operasional untuk mobil ini masih menggunakan uangnya pribadi. Namun baginya itu bukanlah sebuah kendala sepanjang anak-anak bersemangat untuk bersekolah.

Tidak hanya anak-anak, masyarakat umum juga ternyata berminat untuk naik kendaraan yang satu ini. Akan tetapi, bagi warga yang ingin menyewa kendaraan unik ini, hanya diizinkan diluar jam sekolah dengan biaya yang bisa langsung dinegosiasikan bergantung jauhnya jarak yang akan ditempuh.

“Bahkan ada beberapa kelompok organisasi lain mau mencarter mobil untuk kebutuhan transportasi untuk jalan-jalan, ke Desa lain, ke daerah lain,” ungkapnya. “Maka kami berpikir kalau seandainya ini didukung oleh Pemerintah Daerah dan kemampuan desa, kenapa nggak dibuat mobil ini satu unit satu Desa.”

Petrus Wau mengungkapkan, jika antusiasme masyarakat semakin bertambah, ia berencana akan menambah moda transportasi ini. Ia berharap upayanya ini bermanfaat untuk jangka panjang dan meninggalkan kesan positif bagi masyarakat meski nanti ia sudah tidak menjabat menjadi Kepala Desa.

Rekomendasi Berita