Menjadi Besar Menurut Injil: Rendah Hati dan Peduli Sesama

  • 02 Okt 2026 20:04 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Umat Katolik diajak memahami bahwa menjadi besar dalam kehidupan bukan semata-mata tentang jabatan, keberhasilan, kekayaan, atau pengaruh di tengah masyarakat. Kebesaran seorang manusia justru ditunjukkan melalui kerendahan hati, keterbukaan, serta kesediaan untuk melayani dan membantu sesama.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Nias Selatan, Yuliana Gise Duha, S.Pd, dalam program Mimbar Agama Katolik RRI Nias Selatan, Kamis, 1 Oktober 2026. Dalam penyampaian materinya, ia mengangkat tema Menjadi Besar dengan Hati yang Kecil (Matius 18:1-5).

Pada bacaan tersebut, para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Menanggapi pertanyaan itu, Yesus menghadirkan seorang anak kecil di tengah para murid sebagai gambaran tentang sikap yang harus dimiliki untuk menjadi pribadi yang benar di hadapan Tuhan.

“Yesus tidak sedang mengatakan bahwa orang dewasa harus menjadi kekanak-kanakan, tidak bertanggung jawab atau tidak boleh memiliki cita-cita. Yang dimaksud adalah kerendahan hati, keterbukaan, kepercayaan dan kesediaan menerima diri sebagai pribadi yang membutuhkan Tuhan dan sesama,” ujarnya.

Yuliana mengingatkan bahwa mengakui kebutuhan terhadap pertolongan bukanlah tanda kelemahan. Berdasarkan ajaran Gereja Katolik, sikap percaya seperti seorang anak merupakan bentuk penyerahan diri kepada penyelenggaraan Allah yang senantiasa memelihara kehidupan manusia.

Dalam kehidupan sosial yang penuh persaingan dan menghadapi tekanan ekonomi maupun bencana, umat Katolik juga diajak tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri. Injil mengajak umat membangun mentalitas persaudaraan dengan mempertanyakan apa yang dapat dilakukan untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan.

“Gereja mengajarkan bahwa manusia tidak mencapai kepenuhannya sendirian tetapi hidup bersama dan untuk sesama. Maka ukuran kebesaran seorang manusia bukan hanya berapa banyak yang saya miliki, tetapi juga berapa banyak yang sudah saya beri,” ungkapnya.

Solidaritas ini, menurut Yuliana, dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana ketika masyarakat menghadapi bencana atau kesulitan. Membawa makanan dan air, membantu membersihkan rumah, menyumbangkan pakaian, hingga sekadar hadir untuk menemani orang yang sedang mengalami kehilangan merupakan bentuk kepedulian yang tidak boleh diremehkan.

Ia menekankan umat Kristiani tidak cukup hanya merasa kasihan terhadap orang yang mengalami kesulitan, tetapi dipanggil untuk mengambil tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing. Kesuksesan dalam pekerjaan, usaha, maupun jabatan tetap dapat diraih, tetapi keberhasilan tersebut hendaknya tidak membuat seseorang kehilangan kepedulian dan kemanusiaannya.

Pada akhirnya, menjadi besar dalam iman Katolik berarti belajar merendahkan diri, melayani, dan membuat kehadiran seseorang membawa kebaikan bagi orang lain. Di tengah ketidakpastian hidup, umat juga diajak mempertahankan harapan, berani bangkit setelah jatuh, serta belajar dari anak-anak yang mampu memulai kembali tanpa membiarkan kegagalan dan sakit hati menguasai kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....